Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Panduan Terbaru Boleh-Tidaknya Contact Sports pada Anak

Kamis 14 Nov 2019 13:20 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Pengenalan Olahraga Rugby. Siswa SDIT Salsabila Klaseman mengikuti penganalan olahraga Rugby bersama tim Rugby DIY di lapangan Ganjuran, Sleman,  Yogyakarta, Selasa (13/8/2019).

Pengenalan Olahraga Rugby. Siswa SDIT Salsabila Klaseman mengikuti penganalan olahraga Rugby bersama tim Rugby DIY di lapangan Ganjuran, Sleman, Yogyakarta, Selasa (13/8/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan olah raga contact sports pada anak?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum ada bukti yang cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tua mengenai contact sports atau olahraga yang membutuhkan kontak fisik antarsesama pemain, seperti rugby. Beberapa hal utama yang ingin diketahui oleh orang tua adalah kapan waktu yang tepat anak dapat mulai melakukan kegiatan ini, hingga keamanan dan risiko yang mungkin terjadi akibat olahraga ini pada anak-anak.

Dalam berita yang dirilis Associated Press pada 11 November lalu, terdapat beberapa panduan terbaru dari pernyataan konsensus panel ahli mengenai gegar otak yang terkait dengan contact sports. Namun, kisah dalam berita itu seharusnya juga menuliskan bahwa beberapa penulis panduan yang melapor telah menerima hadiah, hingga biaya pribadi oleh liga dan asosiasi olahraga, baik amatir maupun profesional.

Selain itu, pekerjaan para penulis panduan juga dibayar oleh Laccrose Amerika Serikat (AS), USA Football, USA Rugby, dan American College of Sports Medicine. Meski demikian, para penyandang dana tidak memiliki peran dalam bagaimana penelitian dilakukan.

Panduan terbaru mengenai contact sports untuk anak-anak dirilis dalam jurnal JAMA Pediatrics. Di dalam pedoman itu disebutkan bahwa tidak ada bukti konklusif bahwa anak-anak yang lebih muda menghadapi risiko lebih tinggi untuk terkena gegar otak.

Anak-anak juga harus diajarkan terlebih dahulu mengenai teknik-teknik sebelum mulai melakukan jenis olahraga ini. Kemudian, helm merupakan salah satu benda yang wajib digunakan meski tidak ada bukti bahwa tutup kepala mencegah gegar otak dalam olahraga rugby.

Efek jangka panjang dari sejumlah gegar otak saat remaja melakukan olahraga kontak tetap menjadi pertanyaan. Salah satu penulis utama studi, Frederick Rivara, mengatakan bahwa orang tua sering khawatir apakah gegar otak pada anak bisa mengakibatkan mereka menderita demensia saat berusia 50 tahun. Namun, berdasarkan data jawabannya adalah tidak.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA