Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Orang Dewasa dengan ADHD Meningkat Dua Kali Lipat

Rabu 13 Nov 2019 22:28 WIB

Rep: MGROL 125/ Red: Reiny Dwinanda

ADHD (ilustrasi)

ADHD (ilustrasi)

Foto: healthliving
Makin banyak orang dewasa yang terdiagnosis ADHD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memang tak lagi menjadi masalah pada anak-anak saja. Berdasarkan penelitian, selama periode 10 tahun, gangguan ADHD terpantau meningkat dua kali lipat pada orang dewasa di Amerika Serikat.

Walaupun tak dapat mengungkap dengan pasti penyebab meningkatnya jumlah dewasa dengan ADHD, peneliti mengaitkannya dengan kesadaran masyarakat yang meningkat tentang gangguan perkembangan tersebut. Belakangan, makin banyak dokter dan tenaga kesehatan yang bisa mengenali ADHD pada populasi dewasa.

Dilansir Health 24, Child Mind Institute, di New York City, melakukan penelitian dengan menganalisis data lebih dari lima juta pasien di Kaiser Permanente, Kalifornia Utara. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa persentase orang dewasa yang diagnosis mengalami ADHD naik dari 0,43 persen pada 2007 menjadi 0,96 persen pada 2016.

Selain itu, penelitian menunjukkan orang dewasa kulit putih menunjukkan peningkatan yang lebih besar, dari 0,67 persen menjadi 1,4 persen, dibandingkan dengan kelompok ras atau etnis lainnya.

"Lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk lebih memahami mengapa tingkat ADHD pada orang dewasa kulit putih lebih tinggi. Terutama apakah ada kekurangan dalam melakukan deteksi dan diagnosa di antara orang dewasa yang tidak berkulit putih," kata co-author Dr Michael Milham, wakil presiden peneliti di Child Mind Institute, New York.

Orang dewasa memiliki kemungkinan tinggi mengalami gangguan ADHD jika memiliki kondisi kesehatan mental, seperti depresi. Selain itu, orang dewasa yang memiliki penyakit bipolar, kegelisahan, atau gangguan makan juga lebih mungkin mengidap ADHD.

Para peneliti menemukan, orang dewasa dengan ADHD memiliki sering mengakses layanan kesehatan serta berisiko tinggi terkena infeksi menular seksual. Menurut Milham, pengembangan alat dan standar diagnostik yang lebih efektif sangat diperlukan bagi orang dewasa. Ia berpendapat bahwa mendiagnosis orang dewasa secara umum tetap lebih menantang daripada kepada anak-anak.

Akan tetapi, gangguan ADHD pada anak-anak kasusnya tetap jauh lebih tinggi daripada orang dewasa. Diagnosis ADHD pada anak-anak sekitar usia 5 hingga 11 tahun meningkat dari 2,96 persen pada 2007 menjadi 3,74 persen pada 2016. Hal tersebut mengartikan gangguan ADHD pada anak meningkat 26 persen. Studi ini dipublikasikan secara daring di JAMA Network Open, tanpa memberikan jawaban yang pasti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA