Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Jumat, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 Desember 2019

Faktor Penentu 98 Persen Keberhasilan Terapi Diabetes

Rabu 13 Nov 2019 08:22 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Indira Rezkisari

Pria melakukan pengetesan kadar gula darah atau diabetes.

Pria melakukan pengetesan kadar gula darah atau diabetes.

Foto: EPA
Keberhasilan terapi diabetes sangat ditentukan oleh penderita yang tertib berobat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum ada obat yang bisa benar-benar menyembuhkan penyakit diabetes mellitus. Meski begitu, pasien diabetes mellitus bisa memiliki kualitas hidup yang setara dengan orang-orang sehat bila menjalani terapi pengobatan dengan tertib.

"Pengobatan diabetes sudah sedemikian maju, obat-obatannya sudah lengkap," ujar Ketua Umum PB Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Prof Dr dr Agung Pranoto MKes SpPD KEMD FINASIM dalam diskusi kesehatan bersama Sanofi Indonesia, di Jakarta.

Akan tetapi, ketersediaan obat-obatan yang lengkap dan juga dokter-dokter yang mumpuni tidak cukup untuk memberikan hasil terapi yang maksimal untuk pasien diabetes mellitus. Agung mengatakan faktor yang paling berperan dalam menentukan keberhasilan terapi pengobatan diabetes mellitus adalah pasien itu sendiri.

"98 persen outcome itu tergantung dari pasiennya. Dokter yang pintar-pintar dan providers lengkap perannya hanya dua persen," lanjut Agung.

Ada tiga hal yang bisa dilakukan pasien diabetes mellitus untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik. Ketiga hal tersebut adalah early detection, early intensification dan early insulinization.

Dalam early detection, pasien diabetes mellitus diharapkan terdiagnosis dengan penyakitnya sedini mungkin, bahkan saat masih dalam tahap prediabetes. Hal ini mungkin cukup sulit dilakukan karena diabetes mellitus di masa-masa awal tidak menunjukkan gejala yang signifikan dan prediabetes tidak memiliki gejala.

Early detection sangat mungkin dilakukan bila orang-orang dengan risiko diabetes mellitus yang tinggi melakukan skrining secara berkala. Beberapa contoh dari orang-orang berisiko tinggi adalah orang dengan hipertensi, kolesterol tinggi, memiliki riwayat keluarga diabetes, lahir dengan berat badan 4 kilogram atau lebih atau pada anak memiliki kulit yang menghitam di sekitar leher.

"Jangan sudah komplikasi strok, serangan jantung, baru ketemu," tutur Agung.

Early intensification berkaitan dengan pemberian obat. Agung mengatakan diabetes mellitus merupakan penyakit yang progresif seiring dengan perjalanan penyakit. Oleh karena itu, penyesuaian obat perlu dilakukan dari waktu ke waktu sehingga kadar gula darah pasien tetap dapat terkendali.

Suatu saat, lanjut Agung, pemberian obat-obatan bisa menjadi tidak memberi dampak apapun bagi pasien. Dalam kondisi ini, perlu dilakukan early insulinization. Agung mengatakan tak sedikit pasien diabetes mellitus yang enggan menggunakan insulin karena pemahaman yang salah. Padahal, penggunaan insulin di waktu yang tepat justru dapat menunjang kesehatan pasien diabetes mellitus.

"Kalau diabetes tipe 1, sejak sakit dia perlu insulin supaya hidup. Diabetes tipe 2, sewaktu-waktu perlu insulin supaya dia sehat," terang Agung.

Agung mengatakan ketiga 'early' ini dan juga kepatuhan pasien diabetes mellitus sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan terapi. Beragam upaya dokter dan penggunaan obat yang bermacam ragam tak akan banyak membantu bila tak ada upaya dan komitmen dari pasien diabetes mellitus untuk menjalani terapi pengobatan dan menjaga pola hidup dengan baik.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA