Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Fakta Mengejutkan dari Anti-Bullying Week

Selasa 12 Nov 2019 06:24 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nora Azizah

Ilustrasi Bullying

Ilustrasi Bullying

Foto: MGIT3
Anti-Bullying Week diperingati sejak 11 sampai 15 November.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah laporan dari badan amal anti-intimidasi, Ditch the Label menyebutkan, sebanyak satu dari lima anak muda mengalami intimidasi dalam 12 bulan terakhir. Ditch the Label merilis angka-angka tersebut bertepatan dengan Anti-Bullying Week mulai 11 hingga 15 November 2019.

Anti-Bullying Week bertujuan meningkatkan kesadaran akan intimidasi. Tak hanya itu, hal ini juga diharapkan membantu menciptakan lingkungan yang aman untuk semua orang.

Baca Juga

Dilansir melalui Independent.co.uk pada Senin (11/11), laporan tersebut diperoleh berdasarkan pertanyaan yang diajukan pada lebih dari 2.300 anak muda, berusia antara 12 dan 20 tahun tentang pengalaman intimidasi. Berdasarkan hasil, sebanyak satu dari lima orang muda di Inggris diganggu dalam setahun terakhir. Sebanyak satu dari 10 anak muda mengatakan perundungan merupakan kejadian sehari-hari.

Responden yang mengalami intimidasi menyatakan pernah berpikir untuk bunuh diri. Kemudian, sekitar 41 persen responden mengatakan terus merasa cemas setelah mengalami perundungan.

Bahkan, sekitar 86 persen anak muda yang mengalami intimidasi mengatakan perundungan berdampak negatif pada kepercayaan diri mereka. Kemudian, sekitar 65 persen menyatakan bahwa perundungan sangat mempengaruhi kehidupan sosialnya.

Studi itu menggaris bawahi bahwa bentuk intimidasi yang paling umum adalah verbal, diikuti pengucilan sosial, intimidasi, dan penyerangan fisik. Perundungan di dunia maya ditemukan sebagai bentuk paling tidak umum dari penindasan.

“Sangat mengkhawatirkan bahwa satu dari lima anak mengalami beberapa bentuk bullying. Survei Ditch the Label menunjukkan bagaimana intimidasi merusak kehidupan ratusan ribu anak-anak,” kata Komisaris anak-anak untuk Inggris, Anne Longfield.

Longfield mengatakan intimidasi memiliki dampak sangat besar pada harga dini dan kesehatan mental anak muda. Lebih dari separuh responden yang mengalami perundungan meyakini mereka disasar karena penampilan fisik. Sekitar 9 persen berpikir diganggu karena RAS.

Studi itu juga menemukan bahwa 59 persen anak muda yang mengaku bertindak sebagai pengganggu melakukannya karena mereka merasa individu yang diintimidasi itu pantas mendapatkannya. Bahkan perundungan dilakukan karena mereka tidak menyukainya korban.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA