Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Senyawa dalam Alpukat Dapat Turunkan Diabetes

Sabtu 16 Nov 2019 00:06 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Friska Yolanda

Alpukat

Alpukat

Foto: flickr
Senyawa AvoB mencegah oksidasi asam lemak yang tidak sempurna di otot rangka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alpukat selama ini dikenal sebagai sumber lemak sehat dengan cita rasa lezat dan menggugah selera. Ternyata, kelebihan alpukat tak hanya berhenti di situ saja.

Baca Juga

Alpukat diketahui memiliki sebuah molekul lemak yang berpotensi dapat menurunkan resistensi insulin secara aman dan menurunkan risiko diabetes mellitus tipe 2. Hal ini diungkapkan oleh sekelompok tim peneliti dari University of Guelph melalui jurnal Molecular Nutrition & Food Research.

Molekul lemak ini bernama avocatin B atau AvoB. Dalam sebuah studi, tim peneliti memberi makan tikus dengan pola makan tinggi lemak selama delapan pekan. Pola makan ini bertujuan untuk mendorong terjadinya obesitas dan resistensi insulin pada tikus.

"Obesitas dan diabetes masih menjadi sebuah masalah kesehatan yang signifikan," jelas penulis utama paper Nawaz Ahmed, seperti dilansir Medical News Today.

Setelah itu, tim peneliti menambahkan asupan AvoB ke dalam pola makan sebagian tikus yang menjadi hewan coba. Pemberian AvoB kepada sebagian tikus ini berlangsung selama lima pekan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus-tikus yang mendapatkan AvoB mengalami penambahan berat badan lebih lambat dibandingkan tikus-tikus yang tidak mendapatkan AvoB. Selain itu, tikus-tikus yang mendapatkan AvoB juga mengalami peningkatan sensitivitas insulin.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa AvoB dapat mencegah terjadinya oksidasi asam lemak mitokondria yang tidak sempurna di otot rangka dan pankreas. Kondisi ini dapat memperbaiki tolernasi dan pemanfaatan glukosa yang berujung pada perbaikan sensitivitas insulin pada tikus.

Tim peneliti juga melakukan pengujian lebih jauh terkait keamanan AvoB pada manusia. Dalam sebuah uji klinis pada manusia, tim peneliti melakuakn investigasi mengenai efek pemberian suplemen AvoB yang disertai dengan pola makan rata-rata orang Barat selama 60 hari. Suplemen AvoB yang diberikan ada yang berukuran 50 miligram dan ada yang berukuran 200 miligram.

Hasil akhir dari uji klinis tersebut menemukan bahwa manusia dapat menoleransi senyawa dari alpukat ini secara baik. Tim peneliti tidak menemukan adanya dampak negatif pada hati, otot serta ginjal. Selain itu, tim peneliti tidak menemukan adanya indikasi toksisitas ketergantunagn dosis.

Tim peneliti masih melakukan beberapa uji klinis untuk menilai efektivitas AvoB pada manusia dalam bentuk suplemen bubuk dan pil. Di samping itu, tim peneliti juga mengingatkan pada orang-orang dengan gaya hidup sedentari bahwa hanya mengonsumsi alpukat saja tidak akan memberikan asupan AvoB yang cukup untuk bisa mendapatkan manfaatnya.

Diabetes mellitus tipe 2 dapat mencegah tubuh untuk memproses glukosa di dalam darah dengan baik. Bila tidak dikelola, penyakit diabetes mellitus tipe 2 dapat memicu terjadinya beragam komplikasi berbahaya di kemudian hari. Beberapa di antaranya adalah penyakit jantung, strok, ginjal atau kerusakan saraf.

"Kami menyarankan pola makan sehat dan olahraga sebagai solusi untuk permasalahan (diabetes), tapi itu merupakan hal yang sulit bagi sebagian orang," jelas Ahmed.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA