Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Tiga Pestisida Asal AS Ini Diduga Berbahaya untuk Kesehatan

Senin 11 Nov 2019 15:21 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nora Azizah

Sayuran  (ilustrasi)

Sayuran (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
Puluhan negara, termasuk Thailand, melarang penggunaan tiga pestisida ini.

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Pemerintah Thailand melarang penggunaan tiga pestisida asal Amerika Serikat (AS). Pelarangan ini dilakukan berdasarkan penelitian ilmiah yang menemukan bahwa pestisida tersebut sangat berbahaya bagi anak-anak dan populasi rentan lainnya

Baca Juga

Namun, keputusan Thailand ini ditentang pemerintah AS. Bahkan, pemerintah AS mengancam bahwa hal ini dapat mempengaruhi kerjasama perdagangan kedua negara.

Para pemimpin Thailand mengatakan bahwa pada 1 Desember mendatang, larangan akan berlaku pada penggunaan bahan kimia pertanian jenis chlorpyrifos, insektisida yang dipopulerkan oleh Dow Chemical yang diketahui merusak otak bayi. Kemudian, Paraquat Syngenta, herbisida yang disebut ahli menyebabkan penyakit sistem saraf yang dikenal sebagai Parkinson yang telah dilarang di Eropa sejak 2007, serta  herbisida glifosat Monsanto, yang terkait dengan kanker dan masalah kesehatan lainnya.

Dilansir di The Guardian, Senin (11/11), disebutkan bahwa Dow, Syngenta, dan Monsanto masing-masing menggabungkan cara mereka untuk menjadi raksasa perusahaan yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir. Ketiga perusahaan menggunakan kekuatan mereka di Washington untuk menjaga pestisida sebagai penghasil uang tetap.

Namun, para pemimpin banyak negara menyadari risiko yang ditimbulkan oleh banyak pestisida tersebut bagi kesehatan manusia, dan tetap melarang penggunaannya. Thailand bergabung bersama puluhan negara lain yang telah melarang atau merencanakan pelarangan atas paraquat, chlorpyrifos dan atau glifosat. Komite zat berbahaya nasional Thailand bulan lalu melarang ketiganya karena bahaya yang ditimbulkan oleh bukti ilmiah.

Para pemimpin Thailand sebagian dimotivasi oleh penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan bahan kimia ini dalam pertanian tidak hanya membahayakan pekerja pertanian, tetapi juga membahayakan konsumen. Dampak negatif dari pestisida tersebut, yakni residu serangga dan pembunuh gulma tetap ada dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan makanan lainnya.

Menurut laporan berita Thailand, para pejabat AS juga telah memperingatkan bahwa larangan itu akan mengganggu perdagangan kedua negara. AS sangat kesal dengan larangan glifosat, dengan alasan bahwa hal itu dapat membatasi ratusan juta dolar dalam impor Thailand untuk biji-bijian AS, yang sering dicampur dengan residu glifosat.

Para pejabat Thailand yang marah mengatakan mereka telah dipaksa untuk menjelaskan sejelas-jelasnya kepada para pejabat AS bahwa prioritas Thailand adalah kesehatan konsumen Thailand.  "Tugas kami adalah menjaga kesehatan masyarakat," tegas menteri kesehatan masyarakat Thailand, Anutin Charnvirakul, kepada pers.

Di Amerika Serikat, residu pestisida sangat umum dalam persediaan makanan domestik. Laporan Administrasi Makanan dan Obat AS yang diterbitkan pada bulan September menemukan lebih dari 84 persen buah domestik, 53 persen sayuran, dan 42 persen dari biji-bijian yang dijual kepada konsumen mengandung residu pestisida.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA