Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Pelatih Yoga Berisiko Tinggi Alami Masalah Pinggul

Kamis 07 Nov 2019 10:45 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Gerakan senam yoga.

Gerakan senam yoga.

Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Pelatih yoga cenderung mendorong tubuh mereka terlalu keras.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- yoga merupakan aktivitas olah tubuh dan pikiran yang berfokus pada kekuatan, fleksibilitas, dan pernapasan dengan tujuan meningkatkan kulaitas mental dan fisik. Tidak hanya membuat orang yang melakukannya menjadi lebih sehat, namun dapat membuat perasaan lebih rileks.

Tak heran, semakin banyak orang di seluruh dunia yang memilih yoga sebagai aktivitas rutin mereka. Bahkan, diketahui sebenarnya praktek olah tubuh ini telah dilakukan sejak 5.000 tahun lalu di India dan diaptasikan dalam berbagai macam bentuk dan variasi.

Tentunya, kebutuhan akan instruktur yoga akan semakin banyak dengan popularitas olah tubuh ini. Namun, dilansir BBC, sebenarnya ada resiko yang mengancam bagi pelatih yoga , khususnya untuk masalah kesehatan pinggul.

Benoy Matthews, seorang fisioterapis terkemuka yang berbasis di Inggris mengatakan, semakin banyak pelatih yoga yang memiliki masalah pinggul serius dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, tak sedikit diantaranya yang membutuhkan operasi untuk menangani hal ini.

Salah satu faktor mengapa masalah pinggul yang serius terjadi adalah karena para pelatih yoga cenderung mendorong tubuh mereka terlalu keras. Matthews mengatakan, ia melihat setidaknya ada empat hingga lima instruktur yoga yang mengalami hal ini dalam sebulan.

Ada beberapa pelatih yoga yang mengalami masalah pinggul dalam kategori ringan dan dapat ditangani dengan hanya mendapatkan saran untuk memoderasi posisi saat olah tubuh itu dilakukan. Tentunya, hal ini agar postur tersebut tidak terlalu menekan sendi mereka.

Namun, dalam kasus yang lebih berat, para instruktur yoga dengan masalah pinggul ini membutuhkan perawatan serta operasi medis. Bahkan, ada yang harus siap untuk menjalani penggantian pinggul secara total.

"Orang-orang mengacaukan kekakuan dan rasa sakit. Jika ada rasa yang menghalangi seperti sakit di bagian pangkal paha, seharusnya itu tidak diabaikan. Anda harus tahu batas kemampuan Anda," ujar Matthews.

Sebagai ahli fisioterapi yang memiliki spesialiasi di pinggul dan lutut, Mathhews melihat instruktur yoga seringkali salah mengartikan nyeri sendi yang mereka alami. Terkadang, mereka menganggap bahwa itu terjadi hanya karena tubuh yang kaku dan berupaya untuk mendorongnya lebih keras.

"Kita semua tahu tentang manfaat kesehatan dari yoga , saya pun juga melakukannya. Namun, tentu ini bisa menyebabkan cedera dan tidak bisa begitu saja mengabaikannya. Anda harus mengerti dengan diri sendiri,” kata Mathhews.

Matthews mengatakan masalah pada awalnya muncul saat orang-orang berpikir bagaimana pinggul dapat terbentuk dan seberapa fleksibel mereka. Ia mengingatkan bahwa masing-masing orang berbeda, jadi apa yang bisa dicapai seseorang, belum tentu dapat diraih oleh yang lainnya.

"Hanya karena orang di sebelahmu dapat mencapai semua jalan tidak berarti itu perlu atau diinginkan untuk melakukan hal yang sama,” kata Mathhews.

Selain itu, beberapa masalah kesehatan lainnya muncul karena instruktur yoga yang mempraktekan olah tubuh ini mungkin hampir setiap hari berpikir itu sudah cukup. Mereka biasanya tidak melakukan jenis olahraga lain, seperti kardio.

"Ini seperti apa pun. Jika Anda melakukan hal yang sama berulang kali, mungkin ada masalah. Anda perlu mencampurnya dalam hal jenis olahraga atau gerakan lain,” jelas Mathhews.

Sementara itu, Natalie Gartshore yang telah menjadi guru yoga selama 16 tahun mengatakan popularitas toga mengartikan bahwa ia secara efektif menjadi korban dari kesuksesannya sendiri. Ia mengakui bahwa lima tahun lalu pernah mengalami masalah yang terjadi di bagian tulang rawan pinggulnya.

Karena itu, Gartshore saat ini tidak pernah mempraktekkan yoga terlalu banyak atau membatasi waktu dalam sepekan. Namun, para instruktur yogga yang masih baru sulit untuk melakukan hal yang sama dan biasanya bisa mengambil lima kelas dalam satu hari, bahkan tetap bekerja pada akhir pekan.

Pip White, penasihat profesional di Chartered Society of Physiotherapy mengatakan yoga adalah kegiatan yang luar biasa untuk dilakukan oleh setiap orang, dengan banyaknya manfaat kesehatan dan kesejahteraan lainnya. Namun, seperti halnya bentuk latihan atau olahraga apa pun, penting untuk melakukannya dengan aman, yang dalam hal ini ia menggarisbawahi bahwa perlu memahami batasan Anda, karena setiap orang diciptakan berbeda.

"Yoga bukan tentang bersaing dengan orang lain. Jika Anda tetap sadar akan kemampuan dan melakukannya dalam batas Anda sendiri, maka Anda akan mendapatkan semua manfaat besar yang ditawarkan olah tubuh ini,” jelas White.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA