Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Menikmati Kopi Desa Porelea, Hasil Fermentasi Kelelawar, Tikus, dan Tupai

Selasa 05 Nov 2019 09:32 WIB

Rep: Ronald Ricardo (cek n ricek)/ Red: Ronald Ricardo (cek n ricek)

Sumber: Pesona.travel

Sumber: Pesona.travel

Pengolahan kopi toratimo tak tersentuh mesin.

Desa Porelea di pegunungan bagian selatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, punya sajian kopi eksotis kelas satu. Namanya, kopi toratima. Biji kopinya merupakan hasil fermentasi kelelawar, tikus, atau tupai.

Hewan-hewan itu memakan biji kopi yang sudah matang, mengunyah dan menelan kulit kopi yang manis, lalu memuntahkan biji kopi dalam keadaan sudah terkupas (sudah jadi beras-kopi) dan berwarna putih. Kopi ini tinggal disangrai dan ditumbuk. Aromanya lebih wangi dan rasa lebih enak dibanding kopi yang dipetik.

Pengolahan kopi toratimo tak tersentuh mesin. Dijemur di bawah matahari dan disangrai di atas wajan tanah liat dengan bahan bakar kayu bakar. Saat proses menyangrai, wanginya menguar ke seantero desa.

Selama ini, kopi toratima tidak dijual, melainkan hanya untuk konsumsi sendiri, sebagai sajian bagi tamu adat, serta suguhan utama dalam upacara-upacara adat. Kopi toratima inilah yang sedang disiapkan untuk jadi komoditas andalan Desa Porelea, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Kopi Organik Pipikoro

Sejak tahun 2012 Desa Porelea punya industri penggilingan kopi bernama Industri Kecil Menengah Pengolahan Biji Kopi di Porelea (IKM Porelea) melalui program Peduli (PNPM Peduli) Kemitraan. Kopi hasil panen dapat diolah hingga tuntas di Porelea, dan dikonsumsi. Sebelumnya, warga menjual biji kopi ke Gimpu untuk kemudian membeli kopi bubuk kemasan produksi Palu.

Pemasaran kopi dari Porelea telah memenuhi kebutuhan warga Porelea, bahkan telah memasok kebutuhan kopi desa-desa tetangga di Pipikoro hingga ke Desa Gimpu di Kulawi Selatan. Sejak 2013, kopi dari Porelea dijual dengan merk Kopi Pipikoro seharga Rp6 ribu per kemasan 100 gram.

Menikmati Kopi Desa Porelea, Hasil Fermentasi Kelelawar, Tikus, dan Tupai
Sumber: Pesona.travel

Baca Juga: Menikmati Kopi Terbaik di Dunia, Gayo Takengon-Aceh

Kemasannya masih sederhana dan masih perlu dikembangkan hingga mendapat kemasan serta logo yang pas. Kopi Pipikoro dijual dalam tiga varian, yakni kopi original, beraroma jahe, dan beraroma kayu manis. Dua aroma ini didapat dari jahe dan kayu manis yang ikut disangrai bersama kopi.

Kelebihan Kopi Pipikoro adalah organik, ditanam tanpa pestisida dan tanpa pupuk kimia. Bubuknya murni 100 persen kopi tanpa tambahan jagung atau beras sangrai. Jenisnya robusta sehingga relatif aman di lambung. Wanginya khas berasal dari kayu bakar saat menyangrai. Kopi ini pun diyakini sebagai obat sakit kepala.

Tak heran, orang yang biasanya “alergi kopi”, bisa minum kopi hasil bumi Porelea ini pagi, siang, sore, malam seperti penduduk Porelea pada umumnya, tanpa timbul keluhan pusing, kembung, atau diare.

Dari Kopi Pipikoro kita mengenal kopi berkualitas baik yang diolah sejalan dengan ramahnya alam. Tak susah membayangkan bagaimana nanti kopi toratima yang grade-A bisa masuk pasar dan jadi menu mahal di kafe-kafe kota besar.

BACA JUGA: Cek LINGKUNGAN HIDUP, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA