Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Anak Telanjur Kecanduan Gawai? Coba Cara Ini

Senin 04 Nov 2019 19:04 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Nora Azizah

Anak main gadget. Ilustrasi

Anak main gadget. Ilustrasi

Foto: Telegraph
Tidak semua anak kecanduan gawai berakhir dengan pengobatan di Rumah Sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, memberikan komentar mengenai fenomena banyak anak yang kecanduan bermain gawai kemudian terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa (RSJ). Menurutnya, anak-anak yang ketergantungan menggunakan gawai memiliki orang tua dengan peran rendah.

Baca Juga

Artinya, lanjut Ratih, orang tua merasa tidak memiliki waktu bersama dengan anak-anak kemudian membiarkan buah hatinya menghabiskan waktu dengan bermain gawai. Akibatnya, anak-anak menjadi ketergantungan dengan gawai dan tidak bisa melakukan aktivitas lain.

"Kemudian kalau sudah kecanduan dan ketika dialihkan hal lain maka dia merasa marah dan menjadi agresif dan inilah yang menjadi salah satu faktor tidak sehat secara mental," ujarnya saat dihubungi Republika, Senin (4/11).

Ratih mengatakan, anak-anak yang harus mendapatkan perawatan medis di RSJ karena tingkat agresivitasnya yang sudah tidak terkontrol atau menyakiti orang lain. Selain itu, alasan seorang anak harus dirawat di RSJ karena dipicu penyakit mental lain, seperti skizofrenia atau paranoid.

Kendati demikian, ia menegaskan tidak semua anak-anak kecanduan gawai harus dirawat di RSJ. Karena itu, ia meminta orang tua yang memiliki anak yang terlanjur keranjingan bermain gawai supaya menetapkan beberapa cara.

Pertama, Ratih meminta ortu menghentikan total penggunaan gawai buah hatinya. Kedua, dia melanjutkan, ortu wajib mengganti waktu anak hatinya yang sudah tidak bermain gawai dengan kegiatan lain.

Ia menyontohkan ketika sang anak menangis ketika tidak bermain gawai maka jangan dituruti permintaannya. Kemudian bisa menyiasati membuat anaknya akhirnya bermain di luar ruangan seperti sepak bola.

"Karena kalau hanya dihentikan kegiatannya tanpa memberikan kegiatan lain ya kasihan," ujarnya.

Ketiga atau terakhir, ia meminta ortu tidak malu meminta bantuan kesehatan pada pihak ketiga, seperti psikolog. Sebab, anak yang sudah teradiksi gawai dan orang tua tidak bisa menghentikannya.

"Kalau tidak bisa menghentikan anak kecanduan menggunakan gawai karena power rendah maka bisa dikonsultasikan pada ahlinya untuk diberikan trik mengurangi efeknya," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA