Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Asal Mula Vaksin MMR Dituding Jadi Penyebab Autis

Sabtu 02 Nov 2019 07:40 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Reiny Dwinanda

Autisme (ilustrasi)

Autisme (ilustrasi)

Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika
Tidak satupun penelitian menunjukkan adanya kaitan antara vaksin MMR dan autis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar tumbuh kembang anak, Prof DR dr Soedjatmiko SpA(K) MSi menegaskan bahwa pemberian vaksin MMR tidak menyebabkan autisme pada anak. Ia mengatakan, banyak penelitian yang membuktikan tidak ada hubungan antara vaksin dan autis.

"Kalau memang (vaksin) penyebabnya autis, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, ada sekitar tiga juta bayi, pada autis semua dong. Tanya sama bidan-bidan, penyuntik terbanyak adalah bidan, kata bidan nggak ada, yang ada hoaks," kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, di Jakarta, Jumat (1/11).

Lantas, dari mana hoaks itu bermula? Soedjatmiko menjelaskan, pada awalnya, hubungan pemberian vaksin yang menyebabkan autis disebarkan oleh dokter bedah asal Inggris, Andrew Wakefield pada 1998. Melalui penelitiannya yang diterbitkan oleh jurnal medis The Lancet, ia mengklaim ada hubungan antara vaksin measles, mumps, and rubella (MMR) untuk mencegah campak, gondongan, dan rubella itu dengan autisme.

Baca Juga

Akan tetapi, setelah beberapa tahun berlalu ternyata penelitian yang dilakukan Wakefield ditemukan bahwa ia tidak jujur. Soedjatmiko mengungkapkan bahwa Wakefield  telah melakukan pemalsuan data.

Soedjatmiko mengatakan, dalam penelitian tersebut terdapat 18 subjek, lima di antaranya sebelum diimunisasi sudah terkena autis. Di lain sisi, Wakefield merupakan dokter bedah yang tidak pernah melakukan imunisasi.

"Sebanyak 25 penelitian lainnya tidak ada yang menyatakan vaksin menimbulkan autis. Di Indonesia juga tidak ada kasusnya," kata dia.

Soedjatmiko menjelaskan, penyebab autisme sampai sekarang memang masih belum diketahui. Sejauh ini, autisme disebut terjadi karena adanya kelainan di otak manusia. Kelainan dapat terjadi saat masa kehamilan, kemungkinan ditimbulkan dari virus, dan kekurangan mikronutrien.

Riwayat dari keluarga ada yang memiliki kelainan jiwa juga menjadi salah satu potensi penyebab autisme. Lebih lanjut, Soedjatmiko menjelaskan, autisme dapat terjadi disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi anak.

"Penyebabnya tidak hanya satu, kekurangan gizi, terinfeksi virus, kemudian berat badan kurang saat lahir, ini akan berpotensi autis 20 kali lipat, jadi sama sekali bukan karena vaksin," ucap Soedjatmiko.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA