Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

RSJ di Semarang Rawat 8 Anak Kecanduan Gawai

Kamis 31 Oct 2019 13:54 WIB

Rep: Antara/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah anak bermain permainan tradisional loncat karet saat sosialisasi #JamMainKita yang bertajuk Asik Bermain Tampa Gawai (Astaga), di halaman parkir Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (24/9).

Sejumlah anak bermain permainan tradisional loncat karet saat sosialisasi #JamMainKita yang bertajuk Asik Bermain Tampa Gawai (Astaga), di halaman parkir Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (24/9).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Segera bawa anak ke psikiater jika menemukan gejala kecanduan gawai.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- kecanduan gawai sungguh nyata adanya. Delapan anak berusia antara 7-15 tahun terpaksa harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondohutomo, Kota Semarang, Jawa Tengah, karena terindikasi kecanduan gawai.

"Kebanyakan kecanduan gawai karena gim daring (game online)," kata Psikolog Klinis RSJD Amino Gondohutomo Sri Mulyani di Semarang, Kamis (31/10).

Ia mengungkapkan kedelapan anak yang masih duduk di kelas 4 SD hingga SMP itu harus dirawat dan menjalani terapi. Mereka mengalami kondisi kejiwaannya yang marah ketika gawai diambil atau sudah tidak bisa diajak komunikasi karena sibuk dengan gawainya.

Beberapa ciri umum kecanduan gawai pada anak antara lain, lupa belajar, lupa mengerjakan pekerjaan rumah (PR), serta bangun selalu kesiangan. Ciri lainnya sering membolos sekolah, kemudian tidak mau lepas dari gawai, dan marah ketika gawai diambil.

"Mengganggu aktivitas sehari-hari, kalau sudah sampai adiksi (candu) harus segera diobati. Kondisinya sudah tidak bisa diberitahu, mau tidak mau harus dengan obat untuk menenangkan," ujarnya.

Selain obat, kata dia, ada terapi perilaku dan pemeriksaan kondisi selama 21 hari.

Menurut Sri, jika orang tua melihat perilaku anak sudah mulai menunjukkan kecanduan gawai, maka langkah awal yang bisa dilakukan adalah membawa ke psikiater terlebih dulu. "Penanganan harusnya ke psikiater, dokter jiwa, ada obat-obatan agar anak tenang. Setelah kondisi baik maka dilakukan terapi psikologis," katanya.

Ia menyebutkan permasalahan kecanduan gawai pada anak banyak terjadi. Namun orang tua ada yang masih berpikiran RSJ hanya untuk orang gila atau gangguan jiwa akut saja. Padahal jika anak sudah menunjukkan kecanduan gawai, harus dibawa ke dokter jiwa atau psikiater agar tidak semakin parah.

"Banyak orang tua tidak menyadari anak ketergantungan gawai, apalagi harus datang ke RSJ. Stigmanya masih begitu," ujarnya.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA