Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Ingin Anak Berprestasi? Orang Tua Bisa Lakukan Ini (2-Habis)

Ahad 27 Oct 2019 20:43 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Bermain puzzle dengan anak

Bermain puzzle dengan anak

Foto: ideaforkids.com
Perilaku orang tua berdampak terhadap perilaku dan prestasi anak.

REPUBLIKA.CO.ID, Orang tua selalu ingin agar anak-anak mereka bahagia, sehat, dan sukses. Tentu saja, untuk mencapai hal itu, diperlukan pengorbanan, dan perilaku masing-masing orang tua akan sangat terkait untuk mendapatkan hasil manis tersebut.

Dilansir Inc, Ahad (27/10), penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak dengan prestasi yang baik cenderung memiliki orang tua yang melakukan hal-hal berikut:


Sering mengobrol
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Psychological Science, peneliti melibatkan anak-anak berusia empat hingga enam tahun dan merekam pembicaraan selama dua hari. Peneliti mengukur berapa banyak kata yang diucapkan seorang anak, berapa banyak orang tua berbicara dengan anak, serta berapa banyak keduanya terlibat dalam percakapan atau saling merespon (timbal balik).

Dari peneltiian itu, ditemukan bahwa anak-anak yang sering melakukan percakapan timbal balik dengan orang tua mereka memiliki kemahiran tinggi dalam kosa kata, tata bahasa, dan penalaran verbal. Anak-anak ini juga menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi di area otak Broca ketika mendengarkan cerita saat berada di dalam pemindai fungsional magnetic resonance imaging (fMRI).

Studi menunjukkan bahwa orang tua yang ingin secara positif mempengaruhi bahasa dan perkembangan otak anak-anak harus berinvestasi dengan sering melakukan percakapan dengan mereka.


Berikan anak-anak ilmu seni
Peneliti Inggris menganalisis data mengenai 6.209 anak-anak yang terlibat dalam Studi Milenium Cohort Kerajaan Inggris untuk melihat apakah ada hubungan antara seni untuk anak-anak, seperti mendengarkan atau bermain musik, dengan menggambar, melukis, atau membuat suatu karya senin lainnya, hingga membaca bacaan yang menyenangkan pada usia 11 tahun. Ternyata, aktivitas-aktivitas itu dikaitkan dengan peningkatan kepercayaa diri. Ini penting karena kepercayaan diri merupakan bagian integral dari perkembangan sosial dan kognitif dan kesehatan emosional anak-anak.


Tidak berlebihan membagikan informasi anak
Dalam sebuah peneltiian berjudul Civility, Safety and Interaction Online - 2019, Microsoft melakukan survei pada remaja berusia 13 hingga 17 tahun, serta orang dewasa berusia 18 hingga 74 tahun tentang paparan mereka terhadap berbagai resiko dunia maya. Secara total, ada 12.520 orang yang disurvei untuk hal ini.

Dari sana, ditemukan bahwa 42 persen remaja di 25 negara ternyata mempermasalahkan orang tua mereka yang mengunggah apapun tentang mereka di media sosial. Bahkan 11 persen diantaranya merasa bahwa ini adalah masalah besar, sementara 14 persen menganggap sebagai masalah yang cukup mengkhawatirkan dan 17 persen berpikir ini sebagai masalah kecil.

Terlebih, 66 persen remaja mengatakan bahwa mereka telah menjadi korban di dunia maya, dengan persentase yang  sama bahwa bagaimana dampak negatif daring berpengaruh untuk masa depan. Microsoft juga memperingatkan orangtua untuk menolak mengunggah informasi tentang anak-anak mereka, termasuk diantaranya adalah nama lengkap, usia, tanggal ulang tahun, alamat rumah, nama gadis ibu, tim olahraga favorit, hingga nama hewan peliharaan.

Alasan utama untuk tidak membagikan informasi-infomasi tersebut adalah kekhawatiran bahwa akan ada yang menyalahgunakan, hingga mungkin anak-anak tersebut nantinya menjadi target dari kasus penipuan daring, serta pencurian identitas. Bahkan, dalam kasus yang lebih mengerikan, ini dapat mengarah pada online grooming atau kasus di mana anak-anak dimanipulasi, dieksploitasi, hingga menjadi korban pelecehan seksual melalui media sosial.

Grooming menjadi istilah atas upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan anak-anak atau remaja sehingga mereka dapat melakukan kejahatan tersebut. Di banyak negara, hal ini menjadi modus utama kejahatan seksual terhadap anak, yang harus sangat diwaspadai.

Membagikan informasi yang berlebihan tentang anak di media sosial memang menjadi hal yang begitu lazim di era digital saat ini. Terdapat istilah bagi orang tua yang melakukan ini, yaitu sharenting. Karenanya, jadilah bijak dan jangan lakukan itu.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA