Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Anak yang Cukup Tidur Cenderung Berkembang di Sekolah

Ahad 27 Oct 2019 10:33 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Ratna Puspita

Anak tidur.

Anak tidur.

Foto: Pixabay
Temuan memperkuat pentingnya membantu anak tidur sesuai yang disarankan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Penelitian baru menemukan hanya 48 persen anak-anak sekolah amerika serikat (AS) yang mendapatkan jumlah tidur yang cukup setiap malam. Padahal, mereka yang tidur cukup setiap malam lebih cenderung menunjukkan tanda-tanda berkembang di sekolah.

Baca Juga

Studi ini dilakukan oleh  seorang dokter anak yang berafiliasi dengan Rumah Sakit Umum Massachusetts, Dr Hoi See Tsao. Ia mensurvei orang tua dan pengasuh dari 49.050 anak usia enam hingga 17 tahun tentang berapa jam tidur seorang anak yang dipilih secara acak di rumah mereka.

Tidur yang cukup didefiniskan sebagai sembilan jam atau lebih pada rata-rata harui kerja. Para peneliti juga bertanya pada orang tua dan pengasuh tentang lima tanda perkembangan individu.

Melalui itu, dapat terlihat bahwa anak terlibat dan berkembang di sekolah. Tanda-tanda ini termasuk menunjukkan minat dan rasa ingin tahu dalam mempelajari hal-hal baru, peduli dengan keberhasilan di sekolah, melakukan pekerjaan rumah yang diperlukan, menyelesaikan tugas yang sudah dimulai, dan tetap tenang dan terkendali saat menghadapi tantangan.

Setelah memperhitungkan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi seperti usia, waktu yang dihabiskan di depan layar, bermain video game, dan perangkat elektronik lainnya, serta kondisi kesehatan mental, temuan itu mengungkapkan 48 persen anak-anak di Amerika Serikat yang memperoleh waktu sembilan jam.

Selain itu, tidur yang cukup berhubungan positif dengan beberapa penanda individu yang berkembang. Anak-anak yang mendapat sembilan jam atau lebih tertutup hampir setiap malam hari adalah 44 persen lebih cenderung menunjukkan minat dan rasa ingin tahu dalam mempelajari hal-hal baru, 33 persen lebih mungkin untuk melakukan pekerjaan rumah mereka.

Sebanyak 28 persen lebih mungkin untuk peduli dengan berhasil di sekolah dan 14 persen lebih mungkin untuk menyelesaikan tugas, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak cukup tidur.

Seperti yang dilansir dari Malay Mail, Ahad (27/10), penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa semakin banyak penanda yang dimiliki anak-anak, semakin besar kemungkinan mereka menunjukkan perilaku sehat dan perilaku berisiko lebih sedikit. Para peneliti juga menemukan bahwa tidak cukup tidur dikaitkan dengan anak-anak yang tinggal di keluarga miskin, memiliki kondisi kesehatan mental, lebih banyak penggunaan media digital dan peningkatan jumlah pengalaman buruk pada masa kanak-akanak.

Dr Tsao mengatakan temuan ini memperkuat pentingnya membantu anak-anak mendapatkan jumlah tidur yang disarankan sesuai usia mereka, dengan mengurangi penggunaan media digital dan mempromosikan rutinitas sebelum tidur.

Ia mengungkapkan kurang tidur kronis adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius di kalangan anak-anak. Kurang tidur di kalangan remaja, misalnya, dikaitkan dengan konsekuensi kesehatan fisik dan mental, termasuk peningkatan risiko depresi dan obesitas, serta efek negatif pada suasana hati, perhatian dan kinerja akademik.

“Intervensi seperti ini dapat membantu anak-anak menunjukkan lebih banyak ukuran pertumbuhan masa kanak-kanak, meningkatkan perkembangan mereka, dan memberi mereka masa depan yang lebih cerah,” ujar Dr Tsao.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA