Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Sebelum Ditutup, Ratusan Turis Masih Antre Mendaki Uluru

Jumat 25 Oct 2019 10:38 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Indira Rezkisari

Batu Uluru Australia.

Batu Uluru Australia.

Foto: EPA
Mulai besok pendakian Uluru ditutup untuk publik.

REPUBLIKA.CO.ID, ALICE SPRING -- Ratusan turis terekam mengantri untuk berkesempatan naik ke uluru di Australia, sebelum larangan pendakian mulai diberlakukan. Pada Sabtu (26/10) esok, rencananya otoritas mulai melarang pendakian ke kawasan batuan yang dikenal dengan Ayers Rock. Otoritas mengancam mengenakan denda besar dan sanksi tegas pada wisatawan yang ketahuan masih mendaki.

"Suatu hari keluar dari penutupan pendakian uluru , ini adalah garis pukul 07.00,” tulis wartawan Oliver Gordon yang membagikan rekaman antrian di bawah monolit batu pasir raksasa itu. Dilansir dari Independent, video tersebut setidaknya telah ditonton lebih dari 200 ribu orang.

Dewan Pengelola Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta mengambil keputusan dengan suara bulat untuk memperkenalkan kembali larangan yang ada dari Oktober 2017. Alasannya, karena signifikansi spiritual dari Uluru bagi penduduk asli Australia yang menganggapnya suci.

Penduduk telah meminta orang-orang untuk berhenti memanjatnya dengan alasan itu, serta risiko pendakian hingga menuju puncak. Lebih dari 35 orang kehilangan nyawa karena mendaki Uluru sejak pariwisata dimulai pada 1940an.

Pada 2016, tiga turis Australia harus dievakuasi, setelah jatuh ke celah batuan yang retak.

“Itu adalah tempat yang sangat penting. Bukan taman bermain atau taman hiburan seperti Disneyland,” kata Ketua Dewan Pengelola Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, Sammy Wilson.

Sebagai wisatawan, jika dirinya pergi ke negara yang memiliki situs suci dengan ketentuan area terbatas, seharusnya tidak masuk atau memanjatnya. “Saya menghargainya (aturan itu),” ujar Wilson.

Wilson memastikan alasan penutupan bukan lantaran penduduk setempat kesal dengan wisatawan, tetapi karena ada acara perayaan di tempat sakral itu. Sejak pengumuman rencana pelarangan pendakian ke Uluru, banyak orang berbondong-bondong ke jantung Red Centre itu untuk melakukan pendakian. Dengan total hampir 10 ribu pengunjung tambahan dari rata-rata sebulan dalam enam bulan terakhir.

Pada Juli 2019, sebanyak 57 ribu orang datang ke Uluru. Jumlah itu meningkat dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni sebanyak 42 ribu.

Banyak wisatawan yang dengan terang-terangan mengabaikan papan keterangan yang berbunyi, “Kami, pemilik tradisional Anangu, mengatakan ini. Uluru adalah sakral dalam budaya kita, tempat yang memiliki banyak pengetahuan. Di bawah hukum tradisional kita, pendakian tidak diizinkan. Ini rumah kita. Tolong jangan memanjat.”

Banyak pengguna Twitter menyatakan kekecewaan, karena wisatawan masih berusaha mendaki sebelum larangan diberlakukan. Padahal sudah ada penjelasan arti penting Uluru untuk orang-orang Anangu.

Baca Juga

"Saya tidak mengerti ini sama sekali. Ketika kami mengunjungi Uluru sebelum pindah ke Australia, tidak pernah terlintas dalam pikiran kami untuk mendaki -pemandangan terbaik adalah batu itu sendiri- dan kami menghormati dan masih menghormati pemilik tradisional dan permintaan mereka untuk tidak memanjat. Sangat mengecewakan melihat ini,” tulis Lorraine Williams.

“Gambaran secara spesifik, berulang-ulang, dan dengan sangat sopan diminta untuk tidak melakukan sesuatu - dengan alasan keamanan, lingkungan, dan budaya yang sangat baik yang diuraikan panjang lebar - dan masih bertindak seperti ini,” tulis Terry Australis.

“Aku benar-benar muak dengan ini. Sama sekali tidak menghormati keinginan pemilik tradisional,” tulis pengguna Twitter lainnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA