Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Pentingnya Olahraga Ringan Selama 10 Menit

Kamis 24 Oct 2019 22:20 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Nora Azizah

Olahraga jogging

Olahraga jogging

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Olahraga ringan disebut bisa membantu fungsi otak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam jurnal resmi Asosiasi Alzheimer terbaru, dengan edisi Alzheimer's & Dementia, tema yang cukup menarik muncul. Di mana, tema olahraga, khususnya tentang berjalan menjadi lebih intens. Pasalnya, olahraga ringan tersebut cukup berdampak bagi penderita Alzheimer, selain memang bermanfaat bagi otak.

Dilansir dari mindbodygreen, Kamis (24/10) diketahui bahwa Alzheimer nyatanya berhubungan dengan gaya hidup. Bahkan lebih lanjut, penyakit tersebut mendapat julukan "diabetes tipe 3".

Dari studi tersebut, analisis data dikumpulkan dari sekitar 2.700 peserta. Lebih lanjut, penulis yang merupakan, peneliti dari Boston University Medical Center, menilai aktivitas fisik serta keterampilan berpikir, baik itu memori, dan ingatan kata, nyatanya saling berhubungan.

Dari hasil penelitian, ada fakta unik, di mana dengan menghabiskan waktu sekitar 10 hingga 21 menit per hari dengan aktivitas fisik sedang hingga kuat, dapat dikaitkan dengan memori verbal yang lebih baik.

Hal ini berarti, jika ingin memperbaiki gejala penyakit ingatan ini, kita tidak perlu melakukan aktivitas fisik atau olahraga berat setiap hari. Pasalnya, latihan singkat mampu membuat perbedaan yang mencolok, terkait fungsi ingatan, dari pada yang tidak melakukannya sama sekali.

Selain itu, ada juga dua studi lanjutan terkait fungsi ingatan ini. Di mana yang pertama, dilakukan oleh para peneliti dari Erasmus MC University Medical Center di Belanda. Dalam prosesnya, penelitian tersebut mengevaluasi gaya berjalan, termasuk kecepatan berjalan, lebar dan variabilitas pola jalan kaki dan kognisi dari sekitar 4.500 orang dewasa tanpa demensia.

 

Baca Juga

photo
Perempuan olahraga lari (Ilustrasi)


Dari hasil penelitian tersebut, menunjukkan bahwa peserta yang berkinerja buruk pada tes berjalan, lebih cenderung mengalami penurunan kognitif dan demensia pada tahun-tahun berikutnya.

Hasil tersebut juga ditegaskan oleh penelitian yang selanjutnya. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Newcastle itu, lebih mengeksplorasi hubungan antara kognisi dengan gangguan gaya berjalan.

Dalam prosesnya, para peneliti menganalisis gaya berjalan 110 orang dari berbagai usia. Beberapa diantaranya dengan demensia tubuh Lewy, beberapa lainnya dengan penyakit Alzheimer, dan sisanya yang terbebas dari demensia. 

Hasil tidak hanya menunjukkan bahwa perubahan pola berjalan dikaitkan dengan penyakit. Lebih dari itu, bahkan mereka secara spesifik terkait dengan cara berjalan.  Misalnya, peserta dengan Lewy body dementia lebih asimetris saat berjalan.

Jika hasil dari studi ini dikombinasikan dengan fakta yang telah diketahui tentang mencegah Alzheimer. Dengan perubahan pola makan dan gaya hidup sehat, telah memperjelas bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara otak dan gerakan fisik, baik dalam hal mencegah penyakit dan bagaimana kelanjutannya. 

Memang, sejak awal dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami detil hubungan ini. Akan tetapi, dari studi yang ada, telah menunjukkan, di masa depan, gaya berjalan dapat menjadi tolak ukur atau cara murah untuk mendiagnosis berbagai jenis demensia. Di mana hal tersebut tentunya dapat menyesuaikan perawatan dari dokter, dengan penyakit spesifik pasien.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA