Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Vaksin BCG Bayi Dapat Mencegah Kanker Paru

Senin 07 Oct 2019 16:31 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Gita Amanda

Seorang bidan menunjukkan vaksin campak dan vaksin bcg yang asli di Puskesmas Kecamatan Sawah Besar, Jakarta, Selasa (28/6).

Seorang bidan menunjukkan vaksin campak dan vaksin bcg yang asli di Puskesmas Kecamatan Sawah Besar, Jakarta, Selasa (28/6).

Foto: Antara/Rosa Panggabean
Vaksin BCG memiliki efek samping menciptakan sel T dan B yang mengeluarkan antibodi.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Vaksin Bacille Calmette-Guerin (BCG) merupakan vaksin yang biasa diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah tuberkulosis (TB). Studi terbaru menunjukkan bahwa vaksin ini juga dapat mencegah kanker paru.

Studi terbaru ini telah dimuat dalam jurnal JAMA Network. Studi ini dilakukan untuk melihat hubungan antara pemberian vaksin BCG di masa kanak-kanak dengan perkembangan kanker di kemudian hari. Studi ini turut melibatkan follow up 60 tahun dari uji klinis vaksin BCG.

Studi awal dimulai pada Desember 1936 hingga Desember 1998 dengan 2.963 partisipan. Para partisipan ini merupakan anak sekolah keturunan Amerika, Indian dan Alaska yang masih berusia di bawah 20 tahun.

Para partisipan yang terlibat tidak pernah mengalami infeksi tuberkulosis sebelumnya. Sebanyak 1.540 pastisipan menerima vaksin BCG dan 1.423 partisipan hanya menerima placebo sebagai pembanding.

Setelah itu, analisis statistik dilakukan pada Agustus 2018 dan Juli 2019. Hasil studi menunjukkan bahwa pemberian vaksin BCG di masa kanak-kanak berkaitan dengan lebih rendahnya risiko kanker paru pada populasi Amerika, Indian dan Alaska di kemudian hari.

Hasil studi menunjukkan bahwa kejadian kanker paru pada kelompok partisipan yang menerima vaksin BCG lebih rendah dibandingkan pada kelompok yang tidak menerima vaksin BCG. Bila dibandingkan, kasus kanker paru yang ditemukan pada kelompok penerima vaksin BCG adalah 18,2 kasus per 100 ribu, sedangkan pada kelompok yang tidak menerima vaksin BCG adalah 45,5 kasus per 100 ribu.

"Ini merepresentasikan adanya hubungan penurunan kanker paru sebesar 2,5 kali lipat pada mereka yang menerima vaksin BCG," ungkap tim peneliti dalam studi yang diterbitkan pada 25 September lalu tersebut, seperti dilansir Standard Media.

Tim peneliti mengungkapkan bahwa temuan ini memiliki implikasi yang penting bagi kesehatan. Alasannya, angka kematian terkait kanker paru cukup tinggi, sedangkan di sisi lain penyediaan vaksin BCG membutuhkan biaya yang relatif rendah.

Ada beberapa teori yang mungkin dapat menjelaskan hubungan antara vaksin BCG dengan penurunan risiko kanker paru. Salah satunya adalah pemberian vaksin BCG memiliki efek samping menciptakan memori sel T dan sel B yang mampu untuk beradaptasi dan mengeluarkan antibodi.

Namun meski dapat mencegah, vaksin BCG ternyata memiliki keberhasilan yang terbatas bila digunakan dalam terapi pengobatan kanker paru.

"Imunitas untuk pencegahan dan terapi berbeda. BCG mungkin berfungsi sebagai tindakan pencegahan yang efektif, tapi tidak sebagai terapi untuk kanker paru," jelas tim peneliti.

Di samping itu, tim peneliti mengungkapkan bahwa studi yang mereka lakukan masih memiliki keterbatasan. Salah satu di antaranya adalah belum memperhitungkan faktor risiko kanker lain yang mungkin dimiliki para partisipan seperti obesitas, kebiasaan merokok, paparan asap kayu bakar, paparan polusi lingkungan, kurang aktivitas fisik dan radiasi.

“Tapi kita tidak punya alasan untuk meyakini bahwa hal ini bisa memberi dampak berbeda pada sub grup acak,” ungkap tim peneliti. 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA