Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Warga Keluhkan Panasnya Kota Jakarta

Kamis 24 Oct 2019 08:55 WIB

Rep: Abdurrahman Rabbani/Antara/ Red: Bilal Ramadhan

Cuaca panas (ilustrasi)

Cuaca panas (ilustrasi)

Foto: greatdaymoving.com
Cuaca panas akan berlangsung hingga tiga hari ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Warga DKI Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan cuaca panas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, panasnya suhu di Jakarta disebabkan oleh gerak semu matahari yang sejak September bergerak melalui daerah khatulistiwa menuju bumi bagi selatan.

"Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Prabowo, Rabu (23/10).

BMKG menyarankan masyarakat untuk sering menghidrasi tubuh dengan meminum air putih dan menggunakan pakaian yang melindungi tubuh dari sengatan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fahry Rajab mengatakan, Indonesia itu memiliki zona musim yang berbeda-beda. Ada 342 zona musim. “Jabodetabek itu belum masuk musim penghujan. Prediksi kita adalah pertengahan atau akhir November," kata Fahri.

Selain itu, udara yang bertiup ke wilayah Indonesia, terutama Jabodetabek merupakan udara kering dari Australia. Sifat udara dari Australia ini memang panas. Kemudian, pertumbuhan awan di atas Jakarta dan Jawa pada umumnya sangat sedikit.

Menurutnya, komposisi awan di langit Jakarta ini minim, berdasarkan analisis BMKG, mengakibatkan sinar matahari yang bersinar terik langsung menimpa tanah tanpa ada penghalang dari awan. Hal tersebut menjadikan panas di bumi menjadi maksimal.

Selanjutnya, kata Fahry, saat ini, posisi matahari tepat di atas garis ekuator atau khatulistiwa. Hal ini juga yang menyebabkan beberapa daerah di Indonesia mengalami hari tanpa bayangan.

"Nah, itu kan karena posisi matahari tepat di atas Indonesia nih sekarang. Nah itu yang menyebabkan kenapa suhu terasa panas sekarang ya," kata dia menjelaskan.

Fahry menyebutkan, BMKG mencatat, suhu di wilayah Jakarta pernah menembus angka 39 derajat Celsius. Menurutnya, hal ini diprediksi akan berlangsung selama tiga hari ke depan.

Berdasarkan pantauan Republika pada Rabu (23/10) pukul 11.18 WIB di Jalan Jendral Sudirman, tepatnya depan stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, terlihat orang-orang berjalan sembari mencari tempat teduh di bawah bayangan pohon.

Sebagian dari mereka melewati jalan trotoar sembari menutup kepala dengan sebuah tas. Satu orang terlihat berjalan sambil menyeka keningnya akibat panasnya cuaca siang itu.

Sementara itu, para pengendara sepeda motor yang melintas Jalan Sudirman banyak yang terparkir di sisi jalan untuk berteduh di bawah pohon, termasuk pengendara ojek daring. Terlihat dari mereka mengeluh atas panasnya Jakarta.

"Iya panas banget, bahkan kemarin sampai 37 derajat kan ramai di media sosial. Tapi gimana harus beraktivitas di luar ruangan, mau enggak mau deh," kata Delicia, salah satu warga yang beraktivitas di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Senada dengan Delicia, Anton saat beraktivitas di luar ruangan mengeluhkan suhu Jakarta yang memanas sejak Senin (21/10) kemarin. "Panasnya yang sekarang menyengat banget sih, kulit pun rasanya terbakar. Cuma gimana, butuh cahaya matahari untuk ambil gambar," kata Anton yang melakukan hunting foto di Lapangan Banteng.

Selain Delicia dan Anton, ada juga Melissa yang mengeluhkan panasnya suhu Jakarta dalam waktu dua hari terakhir. "Panas banget, mau lap muka pakai tisu basah biar adem taunya tisu basahnya hangat. Tadi bawa minum air dingin, waktu ditaruh sebentar di luar langsung jadi air hangat," kata Melissa sambil tertawa.

Kewalahan

Sementara itu, sebanyak 400 anggota Asosiasi Pendingin dan Tata Udara (APITU) Indonesia mengaku kewalahan melayani permintaan konsumen selama cuaca panas melanda Jakarta.

"Jumlah anggota kami belum ideal, masih banyak kekurangan teknisi. Kita kewalahan juga melayani permintaan user," kata Wakil Ketua Umum APITU Muhamad Ridwan.

Pihaknya mencatat jumlah permintaan konsumen untuk perawatan pendingin ruangan (AC) selama cuaca panas saat ini meningkat hingga 40 persen. Konsumen tersebut didominasi warga DKI Jakarta, Bekasi, dan Depok.

Rata-rata per hari, satu anggota teknisi AC bisa menangani delapan hingga sepuluh permintaan konsumen. Bahkan, sebagian di antaranya terpaksa mengantre giliran pada hari berikutnya karena permintaan yang melonjak.

"Di DKI kan ada banyak juga asosiasi lain dan komunitas pendingin lain. Jadi, tidak semuanya kita yang menangani. Kecuali mau nunggu sampai hari berikutnya," kata Ridwan.

Rata-rata permintaan konsumen adalah pengecekan dan perawatan. Sementara, yang mengalami kerusakan relatif sedikit. Konsumen tersebut berasal dari rumahan maupun perkantoran di Jakarta. "Kadang user kalau panas akhirnya ada permintaan minimal pengecekan," ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA