Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Bahaya Cyberchondria, Apa Itu?

Selasa 22 Oct 2019 10:20 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Nora Azizah

Cemas. Ilustrasi

Cemas. Ilustrasi

Foto: pixabay
Kasus cyberchondria sudah mulai ditemukan di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Perkembangan teknologi kian mempermudah seseorang mengakses informasi. Namun ternyata, hal ini tidak selalu berdampak positif bagi kejiwaan.

Baca Juga

Dokter Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Sardjito, Carla Raymondalexas Marchira mengatakan, kemudahan tersebut dapat menyebabkan cyberchondria . Gangguan kejiwaan ini timbul ketika seseorang memikirkan kesehatan dirinya, dan mencoba mendiagnosa sendiri melalui informasi yang diperoleh di media internet.

Carla mengatakan, kasus cyberchondria sudah mulai ditemukan di Indonesia. Hal ini tentu menjadi hal yang perlu mendapat perhatian karena berakibat pada gangguan mental seseorang.

Carla menyebut, cyberchondria menjadi berbahaya karena seseorang mencoba mendiagnosa penyakitnya sendiri dengan informasi yang tidak lengkap. "Jangan membaca informasi sepotong-sepotong akan membuat over diagnosis," kata Carla, belum lama ini kepada republika.co.id

Ia menyebut, efek dari diagnosa diri sendiri secara berlebihan ini cukup berbahaya. Sebab, dapat menyebabkan seseorang tersebut memiliki gangguan kecemasan.  Bahkan, akan membuat pola tidur seseorang tidak sehat karena kurangnya waktu tidur. Hal ini disebabkan dada yang berdebar-debar karena diagnosa yang dilakukan sendiri.

"Orang tersebut justru akan merasa sakit yang dibuat-buat dan memiliki gangguan kecemasan sehingga dia merasa perlu diobati," lanjutnya.

Carls menjelaskan, dalam mendiagnosa sebuah penyakit, tidak bisa dilakukan secara spontan ketika sakit mulai dirasakan. Diagnosa harus memiliki jangka waktu, serta ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

"Lebih dari itu, seseorang dapat mengkonsumsi obat yang salah serta menyebarkan informasi yang tidak benar kepada orang lain," katanya.

Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat dapat membekali diri dengan pemahaman yang komprehensif terkait gangguan mental. Ia juga menyarankan agar memeriksakan diri kepada ahlinya jika mengalami gangguan kesehatan.

"Ketika mengalami gangguan kesehatan disarankan bertemu langsung dengan ahlinya dan tidak serta-merta melakukan diagnosa terhadap diri sendiri," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA