Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Korea Selatan Miliki Program Detoksifikasi Kecanduan Gawai

Selasa 22 Okt 2019 09:39 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih

Anak main gadget. Ilustrasi

Anak main gadget. Ilustrasi

Foto: Telegraph
Di kamp, para remaja didorong untuk berpartisipasi dalam perburuan.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL — Sekitar pukul 04.00, Yoo Chae-rin (16 tahun) baru saja menyadari bahwa dirinya sudah menggunakan telepon selama 13 jam. Padahal, dalam waktu kurang dari tiga jam, dia harus bangun untuk sekolah.

Siswa sekolah menengah korea selatan itu tahu dia punya masalah dengan ketergantungan gawai. Karena itu, dia mendaftarkan diri di kamp yang dikelola pemerintah untuk remaja yang tidak bisa mematikan teleponnya.

“Bahkan ketika aku tahu di kepalaku aku harus berhenti menggunakan ponsel pintar, aku terus menggunakan. Aku tidak bisa berhenti, jadi aku akan menggunakannya sampai subuh,” kata Yoo dilansir di Edition.cnn.com, Senin (21/10).

Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan kepemilikan ponsel pintar tertinggi di dunia. Lebih dari 98 persen remaja Korea Selatan menggunakan satu ponsel pintar pada 2018.

Baca Juga

Tahun lalu, Kementerian Sains dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (MSIT) merilis bahwa sekitar 30 persen anak-anak Korea Selatan berusia 10 hingga 19 tahun, digolongkan “terlalu tergantung” pada ponsel. Artinya, anak-anak itu mengalami masalah serius karena penggunaan ponsel pintar, termasuk penurunan kontrol diri.

Tahun ini, Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga setempat mengadakan 16 kamp di seluruh negeri untuk sekitar 400 siswa sekolah pertama dan menengah. Bagi beberapa orang tua, kamp itu adalah pilihan terakhir.

"Saya pikir mereka mengirim anak-anak ke sini, karena putus asa untuk mendapatkan bantuan ahli,” ujar Direktur Pusat Konseling dan Kesejahteraan Pemuda Gyeonggi-do, Yoo Soon-duk yang mengelola sebuah kamp untuk remaja di Provinsi Gyeonggi utara.

Yoo Chae-rin adalah siswa biasa di sekolah menengah. Yoo biasa begadang untuk berselancar di Facebook, bermain dengan aplikasi kamera, dan berbicara dengan teman-teman di layanan pesan instan KakaoTalk.

“Saya merasa kesadaran realitasku mulai memudar. Bahkan ketika saya memiliki hari yang menyenangkan dan produktif (dengan teman-teman saya), rasanya seperti mimpi,” kata Yoo.

Ayahnya, Yoo Jae-ho, semakin khawatir tentang kondisi putrinya. Dia mendapati putrinya tak banyak melakukan percakapan dengan anggota keluarga. “Jika aku berbicara dengannya tentang teleponnya, akan ada pertengkaran,” kata Yoo.

Dia menetapkan batas waktu dua jam sehari untuk penggunaan ponsel pintar, tetapi putrinya masih menemukan cara untuk bermain dengan ponsel pintarnya. Pada Juli lalu, Yoo Chae-rin memutuskan bergabung dengan kamp. Untuk pertama kalinya, Yoo menyerahkan teleponnya dan memulai detoksifikasi selama 12 hari.

Kamp detoksifikasi internet Korea Selatan gratis, selain untuk makanan seharga 100 ribu won (84 dolar AS). Anak laki-laki dan perempuan dikirim ke kamp yang terpisah. Masing-masing kamp melayani sekitar 25 siswa.

Di kamp, para remaja didorong untuk berpartisipasi dalam perburuan, kegiatan seni dan kerajinan, serta acara olahraga. Mereka juga harus menghadiri sesi konseling satu lawan satu, kelompok dan keluarga untuk membahas penggunaan telepon mereka. Kemudian, selama 30 menit sebelum tidur, peserta diajak bermeditasi.

Kamp diadakan jauh dari kota, dengan kondisi alam hijau dan rindang untuk membantu pecandu muda mematikan ketergantungannya pada ponsel. Perkemahan Yoo diadakan di Kota Cheonan di Pusat Pemuda Nasional Korea.

Direktur kamp Yoo Soon-duk mengatakan selama beberapa hari pertama para remaja menunjukkan wajah “menderita”. Namun, mereka akan menunjukkan wajah bahagia pada hari ketiga.

“Mereka (mulai) senang bergaul dengan teman-teman,” ujar Yoo.

Di dinding di kamp Cheonan, orang tua meninggalkan pesan di pohon. “Kami berharap kamp akan menjadi waktu untuk merenungkan diri sendiri dan mencintai diri sendiri,” bunyi salah satu pesan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA