Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Empat Pelajaran Kesehatan Mental dari Joker

Sabtu 12 Okt 2019 08:00 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Film Joker.

Film Joker.

Foto: Warner Bros via AP
Film Joker turut mendatangkan pelajaran untuk merawat kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak kemunculan pertamanya, film Joker berhasil menuai popularitas dan respons positif dari berbagai kalangan. Selain menawarkan kekuatan cerita dan akting ciamik Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck alias Joker, film thriller psikologis ini ternyata juga sarat akan nilai kehidupan dan pelajaran seputar kesehatan mental.

"Itu film yang bagusnya, banget. Saking bagusnya, kayak realita," ungkap spesialis kedokteran jiwa dari Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM dr Heriani SpKJ(K) usai menjadi pembicara dalam seminar umum yang diselenggarakan di IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Jakarta.

Dari film Joker, setidaknya ada empat pelajaran berharga seputar kesehatan mental yang bisa dipetik oleh penonton. Berikut ini adalah keempat pelajaran tersebut.

Parenting dan perkembangan Psikologis Anak

Arthur tidak dibesarkan dalam keluarga yang normal. Ia mengalami kekerasan saat kecil dari orang terdekat, bahkan hingga otaknya cedera.

Baca Juga

"Gimana rasanya, sebagai anak kecil dia tidak pernah didengarkan, disiksa, dia nggak bisa berkembang jadi orang yang kuat secara psikis," ungkap Heriani.

Padahal, tiap jenjang usia anak memiliki tahap perkembangan psikologis yang perlu dicapai. Bila tahap perkembangan psikologis ini tidak tercapai karena ketiadaan peran orang tua, ada beragam kemungkinan yang bisa terjadi.

Sebagai contoh, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit percaya pada orang lain, memiliki perasaan bersalah, merasa malu atau ragu pada diri sendiri, hingga tumbuh menjadi sosok yang merasa inferior dan bingung terdahap identitas diri sendiri.

"Sering kali anak tergelincir di fase (remaja). Gangguan jiwa juga seringkali mulai terjadi di fase ini," jelas spesialis kedokteran jiwa dr Sylvia Detri Elvira SpKJ(K).

Pentingnya terapi pengobatan kesehatan mental
Arthur diceritakan sebagai sosok pria yang memiliki masalah kesehatan mental. Gangguan itu membuatnya kerap tertawa tiba-tiba di saat yang tak semestinya.

Akan tetapi, Arthur masih dapat menjalankan fungsinya dengan baik di tengah masyarakat karena mendapatkan bantuan obat dari pemerintah. Obat-obatan tersebut membantu Arthur untuk bisa tetap bekerja hingga merawat sang ibu yang sakit.

Namun di satu titik, bantuan subsidi untuk obat-obatan dipangkas oleh pemerintah kota Gotham. Kondisi ini membuat Arthur tak lagi bisa mengakses obat-obatan yang selama ini membantunya untuk tetap stabil.

"Dia mulai berhalusinasi lagi, dia berwaham kayak gitu. Itu di luar kendali dia," lanjut Heriani.

Support system juga penting
Sejak kecil, Arthur tidak memiliki sosok orang tua yang baik sebagai panutan. Ketika dewasa, Arthur harus kehilangan kesempatannya untuk bisa mendapatkan obat-obatan yang membantunya tetap stabil. Kondisi ini semakin diperburuk dengan lingkungan di sekitarnya yang tidak mendukung.

Tidak ada satu orang pun hadir sebagai pendengar yang baik bagi Arthur. Selain itu, teman yang ia percaya malah memberi pengaruh yang buruk.

"Dia tidak mendapat support, terpinggirkan oleh masyarakat," ujar Heriani.

photo
Film Joker

Jujur ketika tidak bahagia
Penny selalu menasihati Arthur untuk tetap memasang wajah tersenyum meski sedang merasa sedih. Nasihat ini sebaiknya tidak benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Heriani mengatakan, setiap orang boleh merasa senang ketika senang, merasa sedih ketika sedih, ataupun merasa marah ketika marah. Heriani mengatakan, tidak ada perasaan yang baik atau buruk. Memiliki perasaan merupakan hal yang manusiawi.

"Kalau sedih ya menangis saja, jangan memaksa tersenyum," kata Heriani.

Perasaan sepatutnya memang dikomunikasikan tanpa bersikap menghakimi diri sendiri maupun orang lain. Mengomunikasikan perasaan tidak harus selalu melalui kata-kata. Perasaan juga bisa dikomunikasikan melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti menggambar hingga menulis lagu.

"Tak apa untuk merasa sedih," ucap Heriani.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA