Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Seorang ibu Peringatkan Bahaya Termometer Inframerah

Kamis 17 Oct 2019 12:26 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Indira Rezkisari

Termometer inframerah.

Termometer inframerah.

Foto: Flickr
Termometer yang harganya mahal karena canggih belum tentu tepat hasilnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini, orang tua sering merasa khawatir dengan suhu tubuh anak yang meningkat atau menunjukkan indikasi bahwa ia mengalami demam. Pengecekan melalui termometer dilakukan secara rutin, terlebih telah ada tanda atau gejala tersebut.

Seperti seorang ibu bernama Marina Reznikov yang mengatakan dirinya merasa sangat khawatir setelah memeriksa suhu tubuh putrinya mencapai 38 derajat celcius dengan termometer. Ia pun memutuskan untuk memantau situasi selama 24 jam ke depan, hingga akhirnya memutuskan untuk mencari bantuan medis.

Saat itu, seorang perawat mengirimkan tim paramedis ke rumah Reznikov. Sang anak, Aria kemudan harus dibawa ke rumah sakit untuk tindakan pencegahan. Dari sana, ia mengetahui bahwa ada yang salah dengan pemeriksaan yang dilakukannya melalui termometer.

Di rumah sakit, diketahui bahwa suhu tubuh Aria masih dalam batas normal dan tidak ada masalah kesehatan yang terjadi kepadanya. Dokter menjelaskan kepadanya bahwa memang termometer inframerah , yang digunakan Reznikov saat memeriksa suhu putrinya itu tidak selalu akurat.

“Kami melakukan perjalanan ke rumah sakit, yang sebenarnya tidak perlu dilakukan karena termometer inframerah yang cukup mahal, tapi ternyata buruk ini,” ujar Reznikov dilansir Mirror, Kamis (17/10).

Menurut Reznikov, berdasarkan analisa termometer inframerah yang digunakannya, suhu Aria telah mencapai 38,1 derajat celcius, atau melebihi batas normal. Ternyata, dalam 24 jam, saat ia ke rumah sakit, suhu Aria hanya 37,4 derajat, yang menujukkan bahwa ia tidak demam.

“Tim paramedis memeriksa dan berdasarkan itu, suhu tubuh Ara normal, namun mereka tetap menerima kami untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna berjaga-jaga,” jelas Reznikov.

Menurut Reznikov, dokter berkata padanya bahwa ini seringkali terjadi. Bahkan bisa dalam satu kali seminggu melihat kasus serupa, saat orang-orang menggunakan termometer inframerah.

Dari sana, ia mengetahui bahwa harga yang lebih mahal, tidak selalu mengartikan bahwa benda atau suatu produk lebih baik dari yang lainnya.

"Apa yang telah saya pelajari? Apa yang sudah saya ketahui dan lupakan. Pemasaran yang cerdas dan label harga yang lebih tinggi. Hanya karena harganya lebih mahal, tidak berarti membuatnya lebih baik,” kata Reznikov.

Reznikov mengatakan bahwa jika dokter mengatakan apa yang dialaminya juga terjadi pada banyak orang lainnya, berarti tak sedikit yang tertipu. Ia membayangkan begitu banyak orang membeli termometer inframerah yang harganya jauh lebih mahal, tetapi pada akhirnya tidak bermanfaat.

Dokter mengatakan kepada Reznikov bahwa termometer yang digunakan di ketiak merupakan yang paling akurat untuk mengukur suhu bayi. Karena itu, lebih baik untuk membeli termometer jenis itu, terlebih harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan termometer inframerah.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA