Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Kenali Kondisi Pendarahan yang Bisa Sebabkan Keguguran

Rabu 16 Okt 2019 15:25 WIB

Rep: Ronald Ricardo (cek n ricek)/ Red: Ronald Ricardo (cek n ricek)

Memeriksa Kehamilan (ilustrasi)

Memeriksa Kehamilan (ilustrasi)

Foto: Antara
Kehamilan ektopik terjadi karena sel telur 'salah alamat'.

Ceknricek.com -- pendarahan saat hamil , terutama saat trimester awal memang kerap terjadi. Menurut "American Pregnancy Association", kondisi ini belum tentu menandakan adanya masalah serius dengan kesehatan selama hamil.

Jika mengalaminya, ibu hamil akan disarankan untuk beristirahat. Namun, jika pendarahan sudah disertai dengan kram perut dan jumlah darah lebih banyak, Anda patut waspada dan segera datang ke rumah sakit.

Berikut 5 kondisi pendarahan yang harus Anda kenali karena bisa menyebabkan keguguran saat hamil.

1. Pendarahan subkorionik, biasa terjadi di area plasenta
Pendarahan subkorionik atau biasa disebut hematoma subkorionik adalah salah satu kondisi pendarahan yang mungkin dialami sekitar 1 persen dari seluruh kehamilan yang terjadi. Ini terjadi karena luruhnya akumulasi darah yang terdapat di dalam membran luar janin, baik di sebelah plasenta, atau di dalam lapisan plasenta itu sendiri.

Meski bisa membahayakan, kehamilan Ibu masih bisa diselamatkan dengan diagnosa dan treatment yang tepat. Jika dibiarkan, pendarahan ini bisa menyebabkan persalinan prematur atau membuat plasenta lepas dari dinding rahim sehingga mengalami keguguran.

2. Chemical pregnancy, jenis pendarahan yang paling sering dialami
Chemical pregnancy atau yang dikenal dengan keguguran dini, diyakini terjadi sebesar 50 - 75 persen dari semua kasus keguguran yang terjadi. Kondisi ini biasa dialami pada awal masa kehamilan saat usia kehamilan kurang dari 5 minggu. Pada kondisi ini, sel sperma sukses membuahi sel telur sehingga terjadi pembuahan yang membuat hasil test pack positif.

Baca Juga: Ini Penyebab Blighted Ovum Pada Kehamilan

Namun karena adanya gangguan seperti kromosom, genetik, faktor usia ibu, kegagalan medis dan sebagainya menyebabkan sel telur gagal bertahan hingga akhirnya menyebabkan keguguran. Pendarahan ini ditandai dengan keluarnya darah seperti menstruasi dengan atau tanpa diikuti rasa nyeri perut yang sangat terasa. Periksakan diri segera jika ibu mengalami pendarahan setelah test pack menunjukkan hasil positif.

3. Pendarahan disertai nyeri perut hebat, salah satu tanda keguguran
Pendarahan yang terjadi pada trimester pertama rentan berisiko keguguran. Penyebabnya multifaktor, di antaranya terdapat gangguan pada plasenta, kromosom, maupun faktor lain seperti usia terlalu muda atau terlalu tua dan akumulasi dari gaya hidup tidak sehat ibu.

Maka jika kamu mengalaminya, segera periksakan diri ke dokter walau hanya untuk memastikan. Keguguran pada trimester pertama merupakan keadaan kehamilan yang hilang secara spontan dalam 20 minggu pertama.

4. Kehamilan ektopik, terjadi karena sel telur "salah alamat''
Kehamilan ektopik adalah kehamilan terjadi di luar kandungan. Embrio yang sudah dibuahi tidak menempel di rahim, melainkan di tempat lain, seringnya berada di saluran tuba falopi. Jika seorang ibu mengalami ini, embrio yang salah alamat ini sulit diubah kembali menjadi kehamilan normal.

Apabila embrio dibiarkan tumbuh, bisa menyebabkan pendarahan yang menyebabkan rusaknya tuba falopi. Meski memiliki kemiripan gejala kehamilan seperti kehamilan normal pada awalnya, namun ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai, seperti nyeri di panggul dan perut, serta pendarahan di organ kewanitaan.

5. Kehamilan molar, membentuk jaringan berupa gelembung berisi cairan seperti anggur
Gejala ini kerap disebut hamil anggur. Kehamilan molar merupakan kondisi abnormal kehamilan akibat ketidakseimbangan kromosom yang menyebabkan janin dan plasenta tidak terbentuk sebagaimana mestinya.

Kehamilan molar terbagi menjadi dua, yakni molar komplet yang terjadi saat janin dan plasenta tidak terbentuk sama sekali, dan molar parsial yakni sebagian sel tumbuh normal dan membentuk janin, namun selanjutnya janin tidak berkembang lagi.

Kehamilan anggur baru bisa terdeteksi lewat pemeriksaan USG dan tes darah pada trimester pertama. Bila terkena, dokter akan segera melakukan tindakan, berupa kuret.

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Informasi Terkini Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA