Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Studi Ungkap Seni Menyiapkan Makanan Ala Manusia Purba

Senin 14 Oct 2019 15:45 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Manusia Purba. Ilustrasi

Manusia Purba. Ilustrasi

Foto: Huffingtonpost
Ilmuwan berpendapat manusia purba cukup cerdas untuk menjaga makanan.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Studi arkeologi mengungkap bahwa manusia purba telah mengenal seni menyiapkan makanan sebelum disantap. Para ilmuwan dari Departemen Arkeologi Universitas Tel Aviv bekerja sama dengan pusat penelitian CENIEH.

Tim peneliti menemukan bukti berusia 400 ribu tahun di Gua Qesem dekat Tel Aviv, Israel. Mereka mendapati peninggalan dari zaman paleolitikum berupa tulang hewan yang disimpan selama sembilan pekan sebelum dikonsumsi.

Sumsum tulang merupakan sumber nutrisi yang signifikan dan sering menjadi santapan dalam hidangan masyarakat prasejarah. Temuan baru yang terungkap lewat riset yakni bukti penyimpanan sumsum tulang yang tidak langsung dimakan.

"Ini adalah bukti paling awal yang menawarkan wawasan kehidupan sosial ekonomi manusia yang tinggal di Qesem. Ini juga menandai ambang batas untuk mode baru adaptasi manusia Paleolitikum," kata salah satu peneliti, Profesor Ran Barkai, dilansir dari Dailymail.

Temuan di gua itu menunjukkan para manusia purba sedang menikmati pesta hidangan rusa. Setelah menghilangkan daging dan lemak hewan buruan, penghuni gua menyimpan bagian tubuh dan tengkorak rusa selama beberapa waktu.

Selain bukti penyimpanan, tim menemukan ada tanda pemotongan pada bagian tertentu tulang rusa. Ciri itu bukan tanda pengelupasan kulit atau mematahkan tulang untuk ekstraksi sumsum, tetapi tampak sedemikian rupa agar sumsumnya tetap tertutupi.

Para peneliti melakukan evaluasi dengan seri eksperimental pada tulang rusa, meriset waktu paparan dan parameter lingkungan, dan menggabungkan dengan analisis kimia. Menurut mereka, manusia purba menggunakan tulang sebagai 'kaleng' agar bagian sumsum terjaga.

Sebelum studi tersebut, para ahli percaya bahwa orang-orang dari zaman tersebut terus-menerus berburu dan menghabiskan hasil buruan dalam sekali makan. Untuk pertama kalinya, mereka mendapat bukti seni kuno menyiapkan makanan 420 ribu sampai 200 ribu tahun lalu.

Manusia prasejarah di Gua Qesem cukup canggih, cerdas, dan berbakat untuk mengetahui bahwa cara itu membuat bagian dalam tulang hewan bisa dikonsumsi sampai waktu tertentu. Temuan lain di sana termasuk proses daur ulang dan penggunaan api untuk memasak.

"Kami berasumsi semua ini karena gajah yang sebelumnya merupakan sumber makanan utama tidak lagi tersedia, sehingga manusia prasejarah di wilayah ini harus mengembangkan dan menemukan cara hidup baru," ujar Barkai.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA