Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Polusi Udara di Cina Terkait dengan Keguguran yang Terlewat

Selasa 15 Oct 2019 10:01 WIB

Rep: Noer Qomariah/ Red: Indira Rezkisari

Polusi udara di Beijing, Cina

Polusi udara di Beijing, Cina

Foto: EPA
Keguguran terlewat adalah kondisi ketika bayi telah meninggal atau tidak berkembang.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Studi sebelumnya telah menunjukkan korelasi antara polusi udara dan komplikasi kehamilan. Tetapi penelitian baru menemukan paparan konsentrasi partikel partikulat udara yang lebih tinggi, serta sulfur dioksida, ozon, dan karbon monoksida dikaitkan dengan risiko keguguran yang lebih tinggi pada trisemester pertama kehamilan.

Selain itu, studi tersebut menyoroti peningkatan risiko tidak linier. Tetapi menjadi lebih parah karena semakin tinggi konsentrasi polutan. Para peneliti dari empat universitas serta Akademi Ilmu Pengetahuan Cina melacak kehamilan lebih dari 250 ribu wanita di Beijing dari 2009 hingga 2017, termasuk 17.497 yang mengalami keguguran yang terlewat.

Menurut situs Miscarriage Association, keguguran yang terlewat adalah kondisi ketika bayi telah meninggal atau tidak berkembang. Tetapi belum secara fisik mengalami keguguran.

Para peneliti menggunakan pengukuran dari stasiun pemantauan udara di dekat rumah dan tempat kerja wanita untuk mengukur paparan subjek terhadap polusi.

“China memiliki masyarakat yang menua dan penelitian kami memberikan motivasi tambahan bagi negara untuk mengurangi polusi udara ambien demi meningkatkan tingkat kelahiran,” kata penulis surat kabar tersebut.

Sementara penelitian menunjukkan hubungan kuantitatif antara polusi dan keguguran yang hilang, mengkonfimasikan hubungan sebab-akibat akan memerlukan eksperimen laboratorium yang penuh etis pada embrio manusia, kata seorang profesor di Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas Melbourne, Shaun Brennecke yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Singkatnya para penulis makalah memiliki keuntungan berdasarkan penelitian di Beijing. Yang selama studi memiliki berbagai tingkat polusim dan tingkatnya menurun dari waktu ke waktu,” kata Brennecke seperti  dilansir dari Malay Mail, Selasa (15/10).

Tingkat polusi udara di Beijing telah menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan ketika pembacaan polusi berbeda dari hari ke hari dan di seluruh bagian kota. Tetapi tingkat PM 2.5 Beijing saat ini masih empat kali lebih tinggi daripada yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pembacaan PM 2.5 rata-rata setiap jam di kota itu adalah 42,6 mikrogram per meter kubik udara dalam delapan bulan pertama di 2019. Data tersebut menurut perusahaan riset pemurnian udara perusahaan teknologi SwissAir AirVisual.

“Temuan penelitian ini adalah konsisten dengan penelitian lain terkait polusi udara dan kehilangan kehamilan, serta juga dengan penelitian lain yang mendokumentasikan hubungan yang signifikan antara polusi udara dan kelahiran prematur,” ujar seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Columbia yang tidak terlibat dalam penelitian ini, Frederica Perera.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA