Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Buah Kopi Kurangi Peradangan yang Disebabkan Lemak?

Selasa 15 Okt 2019 09:23 WIB

Rep: Noer Qomariah/ Red: Indira Rezkisari

Buah kopi.

Buah kopi.

Foto: Pixabay
Bagian buah kopi yang dimaksud adalah kulit dan lapisan peraknya.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI — Sebuah studi baru menunjukkan bagian buah kopi yang tidak digunakan dapat membantu mengurangi peradangan akibat lemak dalam sel dan meningkatkan penyerapan glukosa dan sensitivitas insulin. Sesuai dengan ilmu pangan dan peneliti nutrisi manusia di University of Illinois, bagian buah kopi yang dimaksud adalah kulit dan lapisan perak (silverskin) yang sering ditinggalkan di ladang oleh produsen kopi.

Senyawa fenolik yang memerangi peradangan (asam protocateshuic dan asam galat) ditemukan dalam lapisan perak dan kulit buah kopi.

“Bahan dari biji kopi ini menarik terutama karena komposisinya. Itu terbukti tidak beracun dan fenolat ini memiliki kapasitas anti oksidan yang sangat tinggi,” kata profesor ilmu makanan dan rekan penulis penelitain yang diterbitkan dalam Food and Chemical Toxicology, Elvira Gonzalez de Meija, seperti yang dilansir dari Indian Express, Selasa (15/10).

Temuan menunjukkan janji untuk senyawa bioaktif ini. Ketika dikonsumsi sebagai bagian dari diet, sebagai strategi untuk mencegah penyakit kronis terkait obesitas, seperti diabetes tipe dua dan penyakit kardiovaskular.

Untuk penelitian ini, sel-sel lemak dan sel-sel kekebalan dikultur bersama untuk menciptakan kembali interaksi ‘kehidupan nyata’ antara kedua sel. Ketika peradangan terkait obesitas hadir, sel-sel lemak dan sel-sel kekebalan bekerja bersama untuk meningkatkan stres oksidatif dan mengganggu penyerapan glukosa, kemudian memperburuk situasi.

Untuk memblokir lingkaran tersebut dan mencegah penyakit kronis, tujuan para peneliti adalah untuk menghilangkan atau mengurangi peradangan sebanyak mungkin untuk memungkinkan penyerapan glukosa difasilitasi. Serta memiliki sel-sel sehat yang akan menghasilkan insulin yang cukup.

Para peneliti pun menekankan pada dampak positif dari penggunaan produk sampingan biji kopi terhadap lingkungan. Selama pemrosesan kopi, biji kopi dipisahkan dari kulitnya (yang merupakan lapisan luar kacang). Setelah kacang dipanggang, lapisan kulit perak dipisahkan.

“Ini adalah masalah lingkungan yang sangat besar karena mereka memisahkan sekam ini setelah diproses, biasanta tetap berada di ladang, mengalami fermentasi, menumbuhkan jamur, dan menyebabkan masalah,” ujar de Meija.

Di seluruh dunia, 1.160.000 ton sekam dibiarkan di ladang per tahun, berpotensi menyebabkan kontaminasi. Ketika sel-sel lemak tikus diperlakukan dengan ekstrak berbasis air dari kulit biji kopi, senyawa fenolik mengurangi peradangan yang diinduksi lemak dalam sel dan meningkatkan penyerapan glukosa dan sensitivitas insulin.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA