Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

TikTok Bukan Media Sosial Lho...

Senin 14 Oct 2019 11:02 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Indira Rezkisari

Aplikasi Tiktok.

Aplikasi Tiktok.

Foto: ist
TikTok tidak mengedepankan jumlah pengikut.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- TikTok mencatatkan prestasi sebagai aplikasi nomor satu di App Store. Tidak hanya itu, TikTok juga menerima penghargaan dari Google Play sebagai Aplikasi Terbaik dan Aplikasi Paling Menghibur.

Head of User and Content Operations TikTok Indonesia, Angga Anugrah Putra menyebut TikTok bukan sebagai media sosial, tapi disebut dengan content distribution platform. Karena TikTok tidak mengedepankan jumlah pengikut.

"Cocok untuk para content creator. Di media sosial, butuh followers. Tapi di TikTok kita hanya butuh konten dan konsisten," kata Angga di Co & Co Working Space, Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, TikTok memiliki algoritma untuk memudahkan penggunanya dalam menyebarkan konten sesuai dengan pengguna yang memiliki ketertarikan yang sama. Sehingga konsistensi menjadi hal yang penting bagi pengguna TikTok.

"Makin lama orang yang menonton akan jadi followers, di profil bisa mencantumkan akun media sosial lain seperti Instagram atau YouTube," tegas Angga.

Angga pun menjamin pengguna TikTok tidak dibatasi dengan hak cipta di setiap lagu yang digunakannya. Karena TikTok bekerja sama dengan label rekaman sehingga pengguna tidak khawatir atas pelanggaran hak cipta.

Di sisi lain, Angga menyebut rata-rata di Indonesia pengguna mengakses TikTok selama 29 menit per harinya. Bahkan dalam satu hari setiap pengguna menonton 100 video.

"Lima konten yang paling popular diantaranya comedy, fashion and beauty, talent, vlog dan food. Ada lagi sport dan pet tapi mereka kalah populer dari lima konten ini," kata Angga.

Angga memberikan tips untuk pengguna TikTok yang ingin menjadi creator content. Pengguna harus bisa menjaga konsistensi di setiap video yang dia buat.

"Kita tidak boleh, satu video soal makanan, kemudian pindah ke kecantikan atau bahkan ke komedi. Nantinya sistem akan bingung sendiri ketika mendistribusikannya ke pengguna lain," kata Angga.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA