Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Bolehkah Kita Berjalan Lambat?

Ahad 13 Oct 2019 21:21 WIB

Rep: Umi Soliha/ Red: Nora Azizah

Berjalan. Ilustrasi

Berjalan. Ilustrasi

Foto: TimesofIndia
Baik atau tidaknya sistem organ bisa diketahui melalui kecepatan jalan seseorang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan penelitian, berjalan lambat bisa menjadi tanda Anda lebih mungkin jatuh sakit di kemudian hari. Kata para ilmuan, sebuah tes sederhana untuk mengukur kecepatan seseorang berjalan dapat memprediksi kemungkinan mereka terkena penyakit seperti Alzheimer puluhan tahun sebelum gejalanya berkembang.

Peneliti menemukan, orang  berusia 45 tahun yang secara alami berjalan lambat memiliki otak dan tubuh yang menunjukkan tanda-tanda "penuaan dini". Paru-paru, gigi, dan sistem kekebalan tubuh mereka kondisinya lebih buruk daripada orang-orang seusia yang berjalan lebih cepat.

Mereka juga memiliki volume otak total yang lebih rendah, area permukaan otak lebih sedikitt ,yang biasanya  tanda – tanda tersebut ditemukan pada seseorang yang lebih tua.Pe jalan kaki yang lebih lambat juga tampak lebih tua di mata panel yang terdiri dari delapan orang yang menilai "usia wajah" masing-masing peserta dari sebuah foto.

"Hal yang sangat mengejutkan adalah bahwa hal ini terjadi pada orang berusia 45 tahun, bukan pasien usia lanjut yang biasanya dinilai dengan tindakan seperti itu," kata pemimpin peneliti Line JH Rasmussen, seorang peneliti pasca-doktoral di Duke University yang bergengsi di Amerika, dilansir dari Independent.co.uk, Ahad (13/10).

Menurut makalah yang diterbitkan dalam jurnal Jama Network Open, para ilmuwan dapat mengetahui seberapa cepat seseorang akan berjalan di usia setengah baya dengan melihat otak mereka ketika mereka baru berusia tiga tahun. Skor pada IQ mereka, kemampuan mereka untuk memahami bahasa, keterampilan motorik dan kontrol emosional dapat memprediksi kecepatan berjalan mereka pada  usia 45 tahun. 

Para ilmuwan percaya kemampuan berjalan bergantung pada interaksi banyak sistem organ. Mereka juga percaya fungsi kognitif seperti memori dan kecepatan berjalan bisa dikaitkan.

"Kecepatan berjalan seseorang  menunjukkan sistem fungsi  organ  berjalan dengan baik dan penurunan kecepatan berjalan dapat menjadi tanda penuaan lanjut dan memburuknya fungsi sistem organ," kata penulis senior Terrie E Moffitt dari Duke University dan King's College London .

Penelitian ini didasarkan pada studi jangka panjang terhadap 904 orang yang lahir pada tahun yang sama di Dunedin di Selandia Baru. Peserta mendapatkan penelitian kembali antara April 2017 dan April 2019 ketika peserta berusia 45 tahun.Para peneliti menggunakan scan MRI (magnetic resonance imaging) untuk melihat apa yang terjadi di otak.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA