Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Masa Remaja, Periode Rentan Gangguan Kejiwaan

Kamis 10 Okt 2019 06:47 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Remaja bermasalah/ilustrasi

Remaja bermasalah/ilustrasi

Foto: ehow.com
Masa remaja dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan kesehatan jiwa saat dewasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikiater mengatakan masa remaja adalah periode seseorang paling rentan mengalami gangguan kejiwaan atau menjadi pemicu terjadinya gangguan kesehatan jiwa pada saat dewasa. Dokter spesialis kejiwaan dari RS Cipto Mangunkusumo dr Sylvia Detri Elvira SpKJ(K) menjelaskan bahwa pada saat remaja, seorang anak sedang dalam masa pencarian identitas dirinya yang menentukan kehidupannya saat dewasa.

"Gangguan jiwa terbentuknya paling banyak di masa remaja karena pada saat remaja masa menentukan identitas diri itu sangat penting," kata dia dalam acara seminar bertajuk "Prevent Suicide by Loving Yourself di Gedung Imeri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, Rabu.

Oleh karena itu, Sylvia mengingatkan pentingnya peran orang tua untuk mendampingi anak di masa remajanya. Menurut dia, seharusnya orang tua bisa menjadi teman untuk anaknya.

Dia mengemukakan, orang tua harus bisa membuat anak nyaman berada di rumah dan nyaman bercerita agar anak tidak mencari hal tersebut di luar rumah. Tidak jarang Sylvia menangani pasien remaja yang mengalami masalah kejiwaan karena memiliki masalah komunikasi dengan orang tuanya.

"Sebagian besar yang remaja bermasalah karena diem-dieman dengan orang tuanya. Bahkan orang tuanya sungkan berbicara kepada anaknya dan meminta saya yang menyampaikan," kata dia.

Sylvia menjelaskan bahwa faktor psikologi, yaitu pola asuh orang tua kepada anaknya yang kemudian membentuk karakter adalah salah satu faktor yang menyebabkan gangguan kejiwaan. Faktor psikologis ini dibentuk melalui pola asuh orang tua kepada anak sejak balita hingga tumbuh remaja sampai dewasa.

Orang tua yang kerap membandingkan anaknya dengan orang lain, menuntut prestasi kepada anaknya, dan tidak mau mendengarkan serta menyalahkan anak akan menjadi pemicu stres. Jika tingkat stres anak bertambah di lingkungan sekolah atau masyarakat yang melakukan perundungan akan menyebabkan masalah kejiwaan yang bertambah parah. Paling buruk, anak remaja bisa melakukan percobaan bunuh diri.



sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA