Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Uniknya Rasa Kopi yang Ditanam di Lereng Gunung Terong

Kamis 03 Oct 2019 05:11 WIB

Red: Nora Azizah

Biji Kopi (Ilustrasi)

Biji Kopi (Ilustrasi)

Kopi diproses dengan dicuci menggunakan air dari sumber air panas Gunung Terong.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUWANGI -- Banyuwangi yang terletak di paling timur Pulau Jawa memiliki wilayah pesisir sekaligus dataran tinggi. Terdapat daerah gugusan gunung di Banyuwangi yang membuatnya memiliki dataran tinggi dengan dua gunung eksotis yaitu Gunung Raung dan Gunung Ijen yang keduanya terkenal di kalangan pendaki dengan kawah raksasanya.

Dekat dengan air laut karena berada di pesisir, dataran tinggi penghasil belerang, dan letak geografis perkebunan kopi di pegunungan yang menghadap timur menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Jawa dengan rasa yang unik. Salah satu jenis kopi yang ditawarkan di Kedai Kopi Herbal Sekar Wangi, yaitu kopi Glen Nevis, ditanam di lereng Gunung Terong dalam kawasan perusahaan perkebunan PT Glen Nevis yang bergerak di bidang kopi dan karet.

Jika kopi Ijen memiliki keunikan dari semburan belerang di tanah pegunungan, kopi Glen Nevis diproses dengan dicuci menggunakan air dari sumber air panas di Gunung Terong. Tidak hanya unggul dari perkebunan kopi, di Banyuwangi juga terdapat sebuah desa yang bisa disebut sebagai "ibu kota kopi" di Banyuwangi, yaitu Desa Kemiren.

Desa Kemiren terletak di Kabupaten Banyuwangi. Desa ini bukan penghasil ceri kopi karena tidak memiliki kebun kopi satu hektar pun, namun penduduk di Desa Kemiren piawai dalam mengolah biji kopi hingga menjadi minuman enak.

Febri dari Kelompok Sadar Wisata Desa Kemiren mengatakan penduduk desa biasa mengolah biji kopi dari berbagai daerah di Banyuwangi. "Kita (adalah) desa pengolah biji kopi, dari mulai robusta dari Gumbengsari, arabika Belawan dari Pegunungan Ijen," kata dia.

Uniknya masyarakat Desa Kemiren mengolah biji kopi dengan cara tradisional, yaitu menyangrai di atas wajan besar yang dipanaskan menggunakan kayu bakar serta menghaluskan kopi dengan cara ditumbuk. Kopi Jaran Goyang dan Kopi Osing adalah kopi yang terkenal dari Desa Kemiren.

Desa Kemiren telah menjadi desa wisata yang menawarkan berbagai hal mulai dari proses pengolahan kopi tradisional, cagar budaya rumah adat suku Osing yaitu masyarakat asli Banyuwangi, dan Festival Ngopi Sepuluh Ewu (sepuluh ribu cangkir kopi) yang diadakan tiap 12 Oktober setiap tahunnya.

"Sejak enam sampai tujuh tahun lalu, pada 12 Oktober ada acara yang namanya Ngopi Sepuluh Ewu. Warga memberikan kopi gratis untuk masyarakat yang hadir," kata Febri.

Banyuwangi yang terkenal dengan masyarakat penarinya dan tarian Gandrung, penduduknya juga menyukai kopi lebih dari sekadar produksi dan pengolahannya saja. Dalam waktu dekat, yaitu pada 7 Oktober, kata Ita Rosita, diadakan forum perkumpulan antara produsen hingga komunitas pecinta kopi se-Banyuwangi. Tidak ada lain kecuali ngobrol mengenai kopi.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA