Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Siapkan Uang Makan Lebih Jika Liburan di Labuan Bajo

Senin 23 Sep 2019 12:48 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Indira Rezkisari

Wisatawan mengabadikan matahari tenggelam di perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/10).

Wisatawan mengabadikan matahari tenggelam di perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/10).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Tanah Labuan Bajo yang tidak subur membuat harga makanan mahal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Labuan Bajo sedang menjadi kawasan wisata yang naik daun. Tapi kalau Anda tipe pelancong dengan kocek pas-pasan, mungkin Anda mau menabung dulu sebelum liburan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Makan di Labuan Bajo tergolong tidak murah. Saat Republika.co.id menunjungi Pulau Komodo akhir pekan kemarin, sekadar untuk menikmati mi goreng instan dan segelas kopi saset harus mengeluarkan uang sebesar Rp 30 ribu. Satu porsi mi instan dihargai Rp 20 ribu dan segelas kopi sachet Rp 10 ribu.

Seorang wisatawan lokal, Francisca Christy Rosana (27 tahun) mengaku sudah mengunjungi Labuan Bajo sebanyak empat kali sejak 2015. Sejak kali pertama ia berkunjung ke Labuan Bajo hingga tahun ini, menurutnya tidak ada yang berubah dari harga makanan yang dijual di sana.

“Bagi orang Jawa, aku bilang mahal karena ya memang standar hidupnya beda,” kata Francisca.

Francisca  mengakui tidak ada yang berubah dari harga makanan di Labuan Bajo beberapa tahun lalu. Padahal, saat 2015 menunjungi Labuan Bajo, kondisinya belum seramai turis seperti tahun ini.

Bahkan, Francisca sempat penasaran menanyakan kepada pedagang makanan pinggir jalan mengapa harga makanan di Labuan Bajo terbilang mahal untuk turis lokal sekalipun. "Waktu tanya sama orang-orang sana selain karena disparitas, mahalnya harga itu karena Labuan Bajo tidak punya tanah subur,” ungkap Francisca.

Dia menceritakan, sayur mayur dan beras di Labuan Bajo diangkut langsung dari Ruteng. Perjalanan dari Ruteng ke Labuan Bajo memakan waktu selama empat jam sehingga membuat bahan makanan jauh lebih mahal.

Saat Francisca mengujungi pasar di labuan Bajo, bahkan harga sayur mayur juga tetap masih mahal. “Ya di pasar saja relatif lebih mahal. Jadi di sana (Labuan Bajo) standar biaya hidupnya memang tinggi,” tutur Francisca.

Meskipun begitu, Francisca mengungkapkan jika wisawatan ingin makan murah bisa memilih menu makanan laut. Menurutnya, menu makanan laut jauh lebih murah ketimbang jenis makanan lainnya di Labuan Bajo.

“Soalnya komoditasnya Labuan Bajo ya makanan laut. Kalau mau jajan murah, sebaiknya bisa ke Kampung Ujung, bisa pilih sendiri ikan-ikan segarnya. Bisa tawar dan juga bisa menyesuaikan berapa uang yang mau kita keluarin buat makan seafood,” ungkap Francisca.

Setelah beberapa kali mengunjungi Labuan Bajo, Francisca menyarankan wisatawan bisa memilih makanan yang berada di kawasan atas Labuan Bajo. Lokasi itu masuk ke perkampungan dan memang lebih jauh dari pusat kota Labuan Bajo tapi memang lebih murah ketimbang di area pelabuhan.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA