Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Ini Penyebab Rokok Elektrik Berbahaya Bagi Tubuh

Jumat 20 Sep 2019 05:51 WIB

Red: Nora Azizah

Rokok Elektrik/ Vape

Rokok Elektrik/ Vape

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Uap yang dihasilkan rokok elektrik bersifat 'toxic' yang merusak jaringan di tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta (ANTARA) - Pada pekan lalu, laporan The Washington Post menyebutkan 354 kasus penyakit paru-paru di 29 negara bagian Amerika Serikat (AS) dikaitkan dengan perilaku vaping. Akibat hal itu, pemerintah AS mengumumkan rencana larangan penggunaan vape berasal buah dan mentol, atau hanya rasa tembakau yang diperbolehkan beredar.

Ketua Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P. (K) menjelaskan, sifat iritatif dan oksidatif yang dihasilkan oleh kandungan vape menjadi alasan rokok elektrik ini berbahaya. Ia mengimbau masyarakat lebih baik tidak menggunakan vape untuk mencegah kejadian serupa di Indonesia.

"Uap yang dihasilkan oleh rokok elektrik mengandung partikel halus seperti halnya asap yang dibakar oleh rokok konvensional yang dikenal sebagai particulate matter (PM). Partikel halus itu bersifat toksik merusak jaringan atau bersifat iritatif," kata Agus ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis (19/9).

Agus menegaskan bahwa partikel halus tersebut dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan dan dapat masuk ke pembuluh darah hingga menganggu kinerja syaraf. Dalam laman resmi EPA (Badan Kesehatan Amerika Serikat) PM 2.5 atau partikel yang berukuran kurang dari diameter 2.5 mikrometer merupakan partikel yang paling berbahaya bagi kesehatan khususnya paru-paru.

Agus mengatakan, sifat oksidatif juga menjadi alasan vape berbahaya. Adanya pertukaran bahan-bahan cairan vape yang telah berubah menjadi uap dengan oksigen lewat pembakaran tidak dapat disangkal. Menurut Agus, kandungan partikel halus uap vape tersebut ditemukan dalam penelitian CDC (Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS) terbukti merusak lapisan epitel dan alveola (bagian ujung paru-paru) saluran napas.

Kerusakan dua bagian tubuh tersebut menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS) atau kerusakan akut pada kedua paru-paru. Dalam jangka pendek keluhan yang dapat dirasakan oleh penderita ARDS akibat vape adalah sesak napas, nyeri dada, mual, dan diare.

Hingga saat ini, kata Agus, di Amerika telah terjadi 400 kasus kerusakan akut paru-paru akibat pengunaan vape. Hal ini menyebabkan enam orang meninggal dunia. Bahaya lainnya yang dapat ditemui oleh pengguna vape adalah kecanduan nikotin dan terpapar bahan karsinogen yang merupakan pemicu sel kanker di dalam tubuh.

"Beberapa kandungan karsinogen dalam vape yang disinyalir seperti formaldehyide, kemudian nitrosamine, yang kalau dikonsumsi secara terus-menerus memicu kanker," kata dokter Agus.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA