Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Kampung Laweyan, Wisata Batik Nuansa Jawa Kuno

Sabtu 21 Sep 2019 00:33 WIB

Rep: Ronald Ricardo (cek n ricek)/ Red: Ronald Ricardo (cek n ricek)

Foto: Pesona.travel

Foto: Pesona.travel

Kita bahkan bisa juga belajar membatik di Kampung Laweyan.

Ceknricek.com -- Saat mendatangi tempat ini anda akan merasakan nuansa masa lalu, menyusuri gang-gang kecil yang diapit rumah-rumah berarsitektur Jawa kunoTiap rumah menyambut ramah pengunjung yang ingin membeli souvenir, oleh-oleh, batik tulis halus hingga kaos batik dan baju batik, hingga belajar membatik.

Ya, kampung Laweyan yang berada di Solo menjadi ikon wisata budaya dan belanja batik di kota Solo. Kampung ini menjadi kawasan yang berpotensi mengangkat sejarah dan budaya Nusantara.

Tidak hanya seni batik Solo saja yang dapat ditemui di sini, tetapi juga berbagai situs bersejarah seperti masjid dan makam. Kita bahkan bisa juga belajar membatik di Kampung Laweyan. Oleh pemerintah setempat, kampung Laweyan dijadikan kawasan wisata yang berpotensi menarik wisatawan dalam dan luar negeri.

Belanja Hingga Belajar Membatik
Perkampungan batik yang berada di tengah kota Solo ini menjadi pusat usaha batik sejak 400 tahun lalu. Pada zaman Kerajaan Pajang, masyarakat desa setempat telah menekuni usaha batik sebagai mata pencaharian sehari-hari. Batik yang dibuat saat itu merupakan batik tulis. 

Masa kejayaan Kampung Laweyan dimulai sekitar tahun 1900. Pada masa itu terdapat banyak pengusaha batik pribumi dan saudagar yang berjaya dari usaha batik Laweyan.

Pengusaha batik dari Jawa Timur dan Jawa Tengah bersatu membentuk perkumpulan pengusaha batik pribumi yang dinamakan Serikat Dagang Islam. Tujuan utama pembentukan perkumpulan tersebut adalah untuk melindungi pengrajin batik lokal dari kompetitor asing dan perbedaan perlakuan dari pemimpin penguasa Hindia Belanda pada masa itu.

Batik tulis yang dibuat di perkampungan Laweyan memakan waktu cukup lama, yaitu sekitar 2 hingga 4 bulan untuk membuat selembar kain batik. Kini Kampung Laweyan dihidupkan kembali oleh pemuda setempat di masa milenial ini. Tujuan utamanya adalah untuk mengembangkannya menjadi wisata heritage Solo. 

Tiga puluh rumah kuno yang masih berdiri di perkampungan batik ini dikonservasi, terutama rumah bernilai sejarah bagi perkembangan batik di Solo. Makam Haji Samanhudi yang ada di dalam perkampungan ini juga direnovasi agar terlihat lebih rapi. Bahkan, didirikan Museum Haji Samanhudi untuk lebih menarik wisatawan berkunjung mempelajari batik dan sejarah.

Kampung Laweyan di Solo semakin berkembang dengan pesat setelah dilakukan konservasi. Promosi pariwisata terus digalakkan untuk menarik minat wisatawan. Bahkan, beberapa pelajar yang ingin belajar tentang batik dan mencoba membuat batik dapat datang ke perkampungan ini. Disediakan beberapa workshop yang dapat mengajarkan cara membatik dan biasanya hasilnya dapat dibawa pulang. 

Jangan lupa juga untuk menikmati kuliner khas Solo yang tersedia di perkampungan ini. Tengkleng, serabi, pecel, sate kere, dan kuliner khas Solo lainnya dapat dinikmati di tempat ini.

BACA JUGA: Cek SENI & BUDAYA, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA