Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Perlukah Area Kewanitaan Dibersihkan dengan Sabun?

Senin 16 Sep 2019 15:25 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Banyak perempuan mengira organ kewanitaan tidak boleh dibersihkan dengan sabun. (Ilustrasi)

Banyak perempuan mengira organ kewanitaan tidak boleh dibersihkan dengan sabun. (Ilustrasi)

Foto: Odditycentral
Tidak sembarang sabun boleh digunakan untuk membersihkan area kewanitaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Area kewanitaan konon tidak boleh dibersihkan dengan sabun karena dapat menyebabkan iritasi. Apakah benar seperti itu?

Dokter spesialis kulit dan kelamin dr Susie Rendra SpKK dari RS Pondok Indah - Puri Indah, mengungkapkan bahwa informasi yang beredar di masyarakat tersebut merupakan kesalahan besar. Pasalnya, area kewanitaan justru harus dibersihkan dengan sabun.

"Di kelamin wanita banyak sekali kelenjar lemak. Kalau habis buang air kecil, dipegang pasti licin. Kita tidak bisa hilangkan lemak dengan air," jelasnya dalam acara diskusi mengenai Gangguan Kesehatan Kulit pada Lansia di Jakarta, pekan lalu.

Susie menjelaskan, area kelamin memiliki derajat keasaman (pH) superrendah, yaitu sekitar 3,5 sampai 4. Otomatis, perlu sabun yang pHnya asam supaya tidak mengubah keseimbangan suasana asam di organ intim.

Baca Juga

Bagaimana dengan air sirih? Susie mencermati memang banyak perempuan yang mengandalkan air sirih untuk membasuk area kewanitaannya.

Namun, menurut Susie, air sirih itu sifatnya basa. Air sirih berfungsi sebagai astringent atau mengeringkan.

"Mencuci kelamin dengan air sirih, boleh saja. Saat keputihan banyak, misalnya. Ssekali-kali boleh. Kalau keadaan normal, tidak dianjurkan terlalu sering karena bisa membuat kering," ungkapnya.

Sabun ph rendah
Susie mengingatkan, bukan cuma sabun untuk area kewanitaan yang harus cermat pemilihannya. Demikian juga sabun untuk tubuh.

Susie menyarankan untuk memilih produk sabun yang memiliki ph rendah atau asam. Mengapa?

"Kulit kita pH-nya asam, karena keasaman itu memiliki fungsi menghalangi bakteri berbahaya untuk tubuh. Jika menggunakan sabun dengan pH tinggi atau pH basa maka kulit akan menjadi kering. Kalau kering, kelamaan akan menjadi gatal," ujarnya.

Menurut Susie, mereka yang sering kali cuci tangan meski tanpa sabun lama-kelamaan akan mendapati kulinya kering. Ia menjelaskan bahwa air memiliki pH normal, yaitu 7.

"Kulit kita asam, makin lama terpapar air maka akan mempengaruhi microenvironment kulit kita," ujarnya.

Karena itu, sangat penting memilih sabun dengan pH rendah atau asam. Sabun seperti apa yang pH-nya rendah?

Salah satunya sabun bayi dengan ph 5. Namun bukan sabun bayi yang banyak beredar di mini market.

Sabun bayi yang ada di pasaran justru pH-nya tinggi, sekitar 9 sampai 11. Bagi bayi, pH tinggi ini justru aman karena kulit mereka masih cenderung basa. Derajat keasaman kulit bayi akan menurun menjadi asam seiring pertumbuhan usianya.

"Pilih sabun yang paling asam. Kalau tidak bisa beli yang pH rendah atau asam, lebih baik yang netral pH-nya," sarannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA