Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Dampak Kesehatan Terlalu Lama Terpapar Asap

Senin 16 Sep 2019 11:35 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Pengendara melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Ahad (15/9/2019).

Pengendara melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Ahad (15/9/2019).

Foto: Antara/Rendhik Andika
Kualitas udara yang buruk akibat asap pengaruhi kadar oksigen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bencana kebakaran hutan kembali melanda sebagian wilayah Indonesia. Kabut asap sudah pasti berdampak ke kesehatan masyarakat. Pakar kesehatan Prof Dr Ari Fahrial Syam mengaku pernah melakukan penelitian mengenai hal tersebut empat tahun lalu.

Metode dilakukan dengan cara survei daring pada masyarakat yang terkena dampak asap. "Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama terpapar asap akan menyebabkan iritasi pada mata, batuk, sesak napas, pilek dan sakit tenggorokan," ujarnya, Senin (16/9).

Kualitas udara yang tidak baik karena asap akan memengaruhi kadar oksigen. Kekurangan oksigen akan menyebabkan hipoksia.

Hipoksia merupakan keadaan kekurangan oksigen yang dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan pada organ-organ tubuh. Di dalam tubuh, keseimbangan oksigen dijaga oleh sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan.

Hipoksia seharusnya dihindari apalagi pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pada pembuluh darah, baik pada pembuluh darah otak maupun pembuluh darah jantung. Kadar oksigen yang rendah menyebabkan jantung akan mengalami penurunan suplai oksigen yang berat yang yang dapat menyebabkan terjadinya infark atau kematian jaringan.

Begitu pula pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pembuluh darah otak, kekurangan oksigen dapat memperburuk kondisi pasien hingga mengakibatkan pasien tidak sadarkan diri. Penelitian membuktikan bahwa kondisi hipoksia sistematik kronik dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal, jantung dan lambung.

Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa persen penurunan kadar oksigen yang terjadi akibat asap yang menutupi Pekanbaru dan kota-kota lain di Indonesia yang tertutup kabut asap? Hal ini yang harus dijawab terlebih dahulu sehingga bisa memprediksi terjadinya hipoksia pada masyarakat akibat dari turunya kadar oksigen dari udara tersebut. Di sisi lain komponen asap akibat kebakaran hutan juga harus dianalisa, sehingga dapat diprediksi dampaknya buat kesehatan.

Akhirnya memang perlu penelitian lebih lanjut mengenai kandungan asap yang ada dan dampak penurunan kadar oksigen sehingga dampak pada masyarakat dapat diprediksi dan diantisipasi. Untuk sementara memang masyarakat dianjurkan untuk tidak terhirup asap dan mencegah untuk tidak berada di luar rumah saat jumlah asap masih tinggi.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA