Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Belajar Banyak Bahasa Kurangi Risiko Pikun

Senin 16 Sep 2019 11:37 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Indira Rezkisari

Ilustrasi Demensia

Ilustrasi Demensia

Foto: pixabay
Mereka yang bicara lebih dari empat bahasa sangat kecil terpapar pikun.

REPUBLIKA.CO.ID, TORONTO -- Penelitian baru di Kanada menemukan bahwa memiliki kemampuan yang kuat untuk belajar bahasa memiliki efek baik ke kesehatan otak. Belajar bahasa dapat membantu mengurangi risiko individu terkena demensia atau pikun.

Studi penelitian University of Waterloo mengamati 325 biarawati Katolik Roma di Amerika Serikat yang mengambil bagian dalam Studi Biarawati yang lebih besar dan diakui secara internasional. Ini merupakan studi longitudinal dari para biarawati yang berusia 75 tahun ke atas.

Dilansir dari Malay Mail, Senin (16/9), disebutkan para biarawati diminta untuk melaporkan berapa banyak bahasa yang mereka gunakan. Sebanyak 106 sampel karya tulis para biarawati juga disediakan untuk analisa.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer's Disease, menunjukkan bahwa hanya 6 persen dari para biarawati yang berbicara empat atau lebih bahasa yang secara bertahap mengalami demensia. Sedangkan yang hanya berbicara satu bahasa, terdapat 31 persen dari mereka mengalami demensia.

Namun, berbicara dua atau tiga bahasa tampaknya tidak memiliki efek signifikan pada pengurangan risiko demensia dalam penelitian. Ini merupakan temuan yang bertentangan dengan yang ditemukan dalam beberapa penelitian sebelumnya.

Ketika para peneliti menganalisis karya tulis para biarawati, mereka menemukan bahwa kemampuan linguistik tertulis tampaknya memiliki efek yang lebih besar pada pengurangan risiko demensia daripada kemampuan berbicara bahasa yang berbeda.

"Studi Biarawati itu unik. Ini adalah eksperimen alami, dengan kehidupan yang sangat berbeda di masa kanak-kanak dan remaja sebelum memasuki biara, berbeda dengan kehidupan orang dewasa yang sangat mirip di biara," jelas penulis utama penelitian, Suzanne Tyas.

Menurutnya, penelitian memberi kemampuan untuk melihat faktor kehidupan awal pada kesehatan di kemudian hari tanpa khawatir tentang semua faktor lain. Seperti status sosial ekonomi dan genetika, yang biasanya bervariasi dari orang ke orang selama masa dewasa dan dapat melemahkan penelitian lain.

"Bahasa adalah kemampuan otak manusia yang kompleks, dan beralih di antara berbagai bahasa membutuhkan fleksibilitas kognitif. Jadi masuk akal bahwa latihan mental ekstra yang diperoleh multibahasa dari berbicara empat atau lebih bahasa dapat membantu otak mereka dalam kondisi yang lebih baik daripada satu bahasa," papar Tyas.

Studi ini menunjukkan bahwa meski multibahasa mungkin penting, individu juga harus melihat lebih jauh ke dalam contoh lain dari kemampuan linguistik.

Selain itu, perlu tahu lebih banyak tentang multibahasa dan aspek apa yang penting. Seperti usia ketika suatu bahasa pertama kali dipelajari, seberapa sering setiap bahasa digunakan, dan seberapa mirip atau berbeda bahasa-bahasa ini.

"Pengetahuan ini dapat memandu strategi untuk mempromosikan multibahasa dan pelatihan linguistik lainnya untuk mengurangi risiko mengembangkan demensia," kata Tyas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA