Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Inggris Tempati Nomor Buncit Survival Rate Kanker

Jumat 13 Sep 2019 10:12 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Sel kanker. Ilustrasi

Sel kanker. Ilustrasi

Foto: Sciencealert
Survival rate penderita kanker di Inggris berada di nomor buncit untuk negara maju.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah studi dari Cancer Research UK mengungkap, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) penderita kanker di Inggris masih tertinggal dibanding dengan negara maju lain. Peneliti juga menilai pelayanan kesehatan untuk kanker utama termasuk usus, paru-paru, dan pankreas masih buruk.

Studi ini mengamati 3,9 juta kasus kanker sejak tahun 1995 hingga 2014 di tujuh negara berpenghasilan tinggi, seperti Australia, Kanada, Denmark, Irlandia, Selandia Baru, Norwegia, dan Inggris. Data tersebut mencakup tujuh kanker seperti kanker kerongkongan, lambung, usus besar, rektum, pankreas, paru, dan ovarium.

Secara umum, dari rentang tahun itu kelangsungan hidup penderita kanker di Inggris mengalami peningkatan. Misalnya, kelangsungan hidup lima tahun untuk kanker dubur di Inggris telah meningkat dari hanya 14 persen pada 1995, menjadi 62 persen. Kelangsungan hidup satu tahun untuk kanker paru, ovarium, dan esofagus juga meningkat sekitar 15 persen dalam 20 tahun terakhir.

Namun, meskipun tingkat kelangsungan hidup meningkat, Inggris masih belum menyusul negara-negara maju lain. Antara 2010 dan 2014, Inggris memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun terendah untuk kanker lambung, yaitu hanya 20,8 persen, sedangkan Australia memiliki kelangsungan hidup tertinggi dengan 32,8 persen. Australia juga memiliki kelangsungan hidup tertinggi sebesar 70,8 persen untuk kanker dubur, sedangkan Inggris memiliki yang terendah dengan 62,1 persen.

Para peneliti menilai, keberhasilan negara dalam meningkatkan kelangsungan hidup pnderita kanker dipengaruhi oleh seberapa cepat pasien didiagnosis dan seberapa cepat dan efektif pengobatan yang dilakukan. Untuk itu, para peneliti mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki pelayanan kesehatan yang selama ini terjadi seperti kekurangan staf di National Health Service (NHS) serta mengatasi keterlambatan diagnosis.

Direktur diagnosis dini Cancer Research UK, Sara Hiom menegaskan, kekurangan staf perlu diatasi karena itu akan berpengaruh pada pelayanan kesehatan.

“Sederhananya, staf yang cukup itu akan memberi kesempatan lebih bagi penderita untuk selamat dari kanker mereka. Karena pelayanan yang diberikan optimal,” kata Hiom, dilansir Huffington Post, Jumat (13/9).

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA