Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Belanja Daring Tengah Malam Ganggu Kesehatan Mental?

Selasa 10 Sep 2019 11:05 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Nora Azizah

Gangguan mental

Gangguan mental

Foto: playbuzz
Survei berkata, orang lebih banyak membelanjakan uang saat merasa tidak sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Belanja daring memang sangat praktis di zaman serba sibuk seperti saat ini. Malam hari bisa dijadikan pilihan waktu ketika ingin berbelanja daring sebab sudah tidak disibukkan berbagai aktivitas.

Baca Juga

Tetapi ternyata pembeli yang berbelanja daring di malam hari berisiko ditargetkan oleh pengecer. Lembaga Kebijakan Uang dan Kesehatan Mental yang didirikan pakar keuangan pribadi, Martin Lewis, mengkritik para pelaku bisnis, setelah menemukan perusahaan sering menargetkan orang yang rentan godaan melalui email promosi larut malam.

Menurut laporan itu, seperti yang dilansir dari Independent, Selasa (10/9), pelaku bisnis termasuk Amzon, Easyjet, Quidco, Lastminute.com telah mengirim email promosi antara jam tengah malam dan pukul 05.00 pagi untuk menggoda pelanggan. Menurut pengkampanye kesehatan mental dapat menargetkan orang-orang yang rentan dan mengarahkan mereka ke dalam hutang.

Klaim itu muncul setelah Lewis mengumumkan kenaikan 23 persen dalam jumlah pembelian malam hari oleh pembeli yang menggunakan Mastercardnya tahun lalu dibandingkan dengan 2017. Ini merupakan satu dalam 15 dari semua barang yang dibeli dengan kartu pada tengah malam dan pukul 06.00 WIB.

Di dalam laporan juga menunjukkan bahwa dua pertiga dari penjualan malam hari adalah untuk wanita. Menurut Lembaga Kebijakan Uang dan Kesehatan Mental, ada korelasi yang jelas antara kesehatan mental dan pengeluaran yang tidak terkendali.

Sebelumnya, sebuah survei menemukan 93 persen orang mengatakan mereka membelanjakan lebih banyak uang ketika mereka tidak sehat. Sebanyak 40 persen responden menyatakan mereka kemungkinan akan pergi berbelanja online di malam hari.

Menanggapi korelasi tersebut, badan amal telah meminta pengecer untuk menerapkan sistem baru di situs mereka yang memungkinkan orang tidak akan berbelanja pada malam hari. “Ketika Anda berjuang dengan kesehatan mental, Anda juga bisa lebih sulit untuk tidur di malam hari dan Anda bisa lebih rentan terhadap pengeluaran impulsif,” kata Katie Alpin, kepala penelitian dan kebijakan intitusi tersebut.

Ia ingin melihat penjual daring memberi banyak alat pengelolaan pengeluaran pembeli larut malam. “Itu bisa termasuk menawarkan pada pelanggan sarana untuk membatasi ketersediaan toko daring malam hari melalui pengaturan akun mereka atau opsi pembatalkan pembelian malam hari keesokan paginya jika mereka membeli barang yang nantinya akan disesali,” ujarnya.

Untuk membantu orang yang rentan godaan belanja daring pada malam hari, badan amal merekomendasikan penggunaan aplikasi seperti shopper stopper. Aplikasi tersebut dirancang memungkinkan orang untuk memblokir toko daring tertentu atau membatasi pengeluaran pada waktu tertentu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA