Rabu, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 Februari 2020

Rabu, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 Februari 2020

Membeli Pakaian Berdampak Buruk ke Bumi

Rabu 04 Sep 2019 08:39 WIB

Rep: Noer Qomariah K/ Red: Indira Rezkisari

Belanja pakaian.

Belanja pakaian.

Foto: Pixabay
Sering membeli pakaian baru dapat meninggalkan jejak karbon di Bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Membeli baju baru merupakan hal yang menyenangkan bagi perempuan maupun laki-laki. Tetapi, menurut studi yang dirilis oleh badan amal kemiskinan global Oxfam telah menyoroti dampak negatif membeli baju murah terhadap lingkungan.

Seperti dilansir dari Independent, Rabu (4/9), konsep membeli pakaian murah dan memakainya beberapa kali sebelum membuangnya (mode cepat) telah mendapatkan peningkatan fokus dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2016 diperkirakan 1,13 juta ton pakaian dibeli di Inggris meningkat 565 persen dari empat tahun sebelumnya.

Sering membeli pakaian baru dapat meninggalkan jejak karbon di planet ini. Sebagian karena jumlah pakaian dikirim ke tempat pembuangan akhir dan emisi karbon yang dihasilkan ketika pakaian diangkut ke seluruh dunia.

Tetapi dari 1.000 warga Inggris yang disurvei, lebih dari 50 persen populasi tidak menyadari bahwa konsep mode cepat memiliki efek negatif terhadap lingkungan. Tiga dari 10 orang yang disurvei merasa terkejut karena mode cepat merusak Bumi, namun  tidak akan mengubah kebiasaan belanja mereka.

Sementara itu, satu dari 10 mengatakan mereka tidak terganggu sedikit pun tentang dampak kebiasaan belanja mereka di dunia. Selain survei yang dilakukan ada Agustus, Oxfam juga mengumpulkan statistik mengenai biaya lingkungan dari konsep mode cepat berdasarkan data yang sudah ada sebelumnya.

Menggunakan statistik dari laporan Wrap 2016 berjudul Valuing Our Clothes: The Cost of UK Fashion, tim peneliti Oxfam menemukan membeli satu kemeja katun 100 persen putih baru dengan berat sekitar 220 gram menghasilkan jumlah emisi karbon yang sama dengan mengendarai mobil selama 35 mil.

Pada September ini, Oxfam meluncurkan kampanye Second Hand September. Kampanye tersebut merupakan sebuah inisiatif organisasi yang mendorong pembeli untuk menahan diri dari membeli sesuatu yang baru selama sebulan.

Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh badan amal tersebut menyatakan 10 persen orang terkaya dari populasi dunia merasa bersalah karena 50 persen dari emisi karbon global. Sementara itu separuh planet  yakni orang yang lebih miskin hanya bertanggung jawab atas 10 persen.

Kepala eksekutif Oxfam GB Danny Sriskandarajah menekankan pentingnya mengambil tindakan terhadap kerusakan lingkungan dengan mengurangi budaya mode cepat. “Fakta-fakta mengejutkan tentang dampak mode pada planet ini dan orang-orang termiskin di dunia harus membuat kita semua berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu yang baru untuk dipakai,” kata Sriskandarajah.

Seorang penulis How To Break Up with Fast Fashion, Lauren Bravo mengatakan dia merasa sangat ngeri ketika menempukan dampak negatif dari mode cepat itu. “Saya membaca tentang banyaknya pakaian yang masuk ke TPA, pewarna yang mencemari sungai, dan kain sintetis yang melepaskan mikroplastik ke lingkungan laut, dan saya memutuskan perlu mengubah kebiasaan belanja saya,” ujar Bravo.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA