Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Enak Mana, Cokelat Bali, Aceh, Flores, Jatim, atau Ransiki?

Senin 02 Sep 2019 16:16 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Aneka jenis menu makanan dengan bahan dasar coklat di Pipiltin Cocoa, Jakarta, Senin (22/6).

Aneka jenis menu makanan dengan bahan dasar coklat di Pipiltin Cocoa, Jakarta, Senin (22/6).

Foto: Republika/ Wihdan
Cokelat Bali, Aceh, Flores, Jawa Timur, dan Ransiki punya cita rasa yang khas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika bicara mengenai cokelat, Indonesia tampaknya tidak kalah bila dibandingkan dengan negara-negara penghasil cokelat lain, seperti Swiss dan Belgia. Tak hanya menjadi salah satu negara penghasil biji cokelat atau kakao terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki variasi kakao yang beragam.

Baca Juga

Co-Founder Pipiltin Cocoa Tissa Aunilla mengungkapkan setidaknya ada lima daerah di Indonesia yang menghasilkan biji kakao dengan cita rasa yang khas. Kelima daerah tersebut adalah Bali, Aceh, Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur, dan Ransiki di Papua Barat.

Bali, menurut Tissa, memiliki biji kakao dengan cita rasa kebuah-buahan. Bila dicicipi, akan muncul sedikit rasa asam yang mirip dengan buah-buah berry, seperti stroberi.

"Asam dan creamy," kata Tissa dalam peluncuran edisi cokelat asli Indonesia dari Pipiltin Cocoa 'Ransiki 72 Persen', di Jakarta.

Aceh juga menghasilkan biji kakao dengan cita rasa yang unik. Tissa mengatakan, biji kakao dari Aceh memiliki rasa kacang-kacangan.

photo

Ragam cokelat batangan dari biji kakao asli Indonesia yang diolah oleh Pipiltin Cocoa.

Biji kakao dari Flores, menurut Tissa, memiliki sentuhan rasa dari cengkih dan kopi. Dari Jawa Timur, biji kakao yang dihasilkan cenderung memiliki rasa kismis dan madu.

Yang tak kalah unik adalah biji kakao dari Ransiki. Cokelat yang terbuat dari biji kakao Ransiki memiliki cita rasa yang umami.

"Di lidah kita, rasa manis, asin, pahit, asam ada tempat-tempatnya. Kalau umami di seluruh reseptor lidah. Kita rasakan gurih," jelas Tissa.

Selain memiliki rasa umami, biji kakao dari Ransiki juga memiliki rasa yang kekacang-kacangan dan juga creamy. Oleh karena itu, proses pembuatan cokelat dari biji kakao Ransiki tidak memerlukan tambahan susu.

Biji kakao Ransiki juga tidak memerlukan waktu roasting yang lama. Hal ini membuat cokelat dari biji kakao Ransiki tidak memiliki rasa pahit. Cokelat 'Ransiki 72 Persen' keluaran Pipiltin Cocoa, misalnya, tidak memiliki rasa pahit meski memiliki persentase kandungan kakaonya sebesar 72 persen.

photo

Aneka jenis menu makanan dengan bahan dasar coklat di Pipiltin Cocoa, Jakarta, Senin (22/6).

Selain kelima daerah tersebut, Tissa mengungkapkan banyak daerah di Indonesia yang juga memiliki potensi atas biji kakao. Beberapa di antaranya adalah Sulawesi, Berau di Kalimantan, serta Pariaman di Sumatra.

Tissa mengatakan, cita rasa khas yang bervariasi pada biji kopi dari berbagai daerah dipengaruhi oleh microclimate. Microclimate merupakan kondisi lokal yang dapat mempengaruhi rasa dari biji kakao, seperti suhu udara, keasaman tanah, curah hujan, hingga pohon-pohon yang tumbuh di sekitar pohon cokelat.

"Itu mempengaruhi rasa yang ada di cokelatnya," tutur Tissa.

photo

Tissa Aunilla - co founder Pipiltin Cocoa

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA