Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

WHO: Jangan Khawatir Terminum Mikroplastik dalam Air Kemasan

Sabtu 24 Aug 2019 06:55 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Anak meminum air. Ilustrasi

Anak meminum air. Ilustrasi

Foto: AP
Bukan mikroplastik, bakteri tipus dan koleralah bahaya terbesar pada air minum.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belakangan, isu mikroplastik dalam air kemasan membuat masyarakat khawatir. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tingkat mikroplastik dalam air minum tampaknya tidak berisiko.

Kesimpulan itu dapat dari hasil penelitian yang dilakukan dengan cepat dan masih diperlukan lebih banyak penelitian mengenai pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan. Mikroplastik terbentuk ketika bahan-bahan buatan manusia terurai menjadi partikel-partikel kecil yang lebih kecil dari sekitar lima milimeter, meskipun tidak ada definisi ilmiah yang ketat.

Baca Juga

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Rabu, WHO mengatakan bahwa plastik sangat kecil itu "ada di mana-mana di lingkungan". Mikroplastik yang ditemukan dalam air minum, termasuk keran dan botol, kemungkinan besar berasal dari sistem pengolahan dan distribusi.

"Tapi, hanya karena kita menelan mikroplastik, tidak berarti itu memiliki risiko terhadap kesehatan manusia," kata Bruce Gordon selaku koordinator Air, Sanitasi, dan Kebersihan WHO, seperti dilansir laman NBC News.

"Kesimpulan utama adalah, saya pikir, jika Anda seorang konsumen yang minum air botolan atau air ledeng, Anda tidak perlu khawatir," ungkap Gordon.

Gordon mengakui, bagaimanapun, bahwa data yang tersedia "lemah" dan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan. Dia juga mendesak upaya yang lebih luas untuk mengurangi polusi plastik.

Laporan ini adalah tinjauan pertama WHO untuk menyelidiki potensi risiko kesehatan manusia dari mikroplastik. Manusia disebut telah secara tidak sengaja mengonsumsi mikroplastik dan partikel lain di lingkungan selama beberapa dekade tanpa ada tanda-tanda bahaya.

Andrew Mayes, seorang dosen senior dalam bidang kimia di Universitas East Anglia di Inggris yang tidak berpartisipasi dalam laporan WHO, setuju bahwa plastik mikro dalam air tampaknya tidak menjadi masalah kesehatan untuk saat ini.

"Tapi saya tidak ingin orang pergi dengan gagasan bahwa plastik tidak lagi penting karena mereka mungkin merusak lingkungan," kata Meyes.

Dia mengatakan, diperlukan langkah-langkah yang lebih kuat untuk mengurangi plastik. Apalagi, jenis bahan ini menyebabkan stres pada organisme kecil.

"Mikroplastik bisa melakukan banyak kerusakan dengan cara yang tidak terlihat," jelasnya.

Bahkan jika kita menghentikan (menambahkan) plastik ke lingkungan saat ini, plastik mikro akan meningkat ketika potongan-potongan yang lebih besar membelah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. WHO menyerukan analisis lebih lanjut tentang mikroplastik di lingkungan dan potensi signifikansi kesehatannya.

Gordon mengatakan bahwa meskipun WHO akan terus memantau tingkat mikroplastik dalam air, risiko kesehatan terbesar dalam air minum masih seputar bakteri yang menyebabkan tipus dan kolera.

"Ini adalah hal-hal yang menyebabkan penyakit langsung dan dapat membunuh satu juta orang," katanya

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA