Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Tidur Secara Terpisah Bisa Buat Pasutri Lebih Solid

Selasa 20 Aug 2019 12:55 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Christiyaningsih

Bangun tidur (ilustrasi)

Bangun tidur (ilustrasi)

Foto: Womanitely
Penting bersikap terbuka dan jujur dengan pasangan tentang keinginan tidur terpisah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian besar pasangan menganggap berbagi tempat tidur sebagai ekspresi keintiman dan kebersamaan. Namun ada juga pasangan yang tidur secara terpisah.

Baca Juga

Seorang psikoterapis hubungan dan keintiman di Houston, Mary Jo Rapini, mengungkapkan tidur bersama memang bermanfaat. Akan tetapi kebiasaan tidur salah satu pasangan atau kebiasaan tidur yang mengganggu dapat memengaruhi pasangan lainnya.

Kondisi ini dapat meningkatkan produksi hormon stres kortisol sehingga menyebabkan masalah yang berdampak pada pasangan secara keseluruhan. Perasaan tenang, kata para ahli, dapat membantu mengatur hidup dengan lebih fokus dan penuh pengawasan. Ini dapat membuat seseorang merasa lebih puas dan lebih bahagia dalam hubungan pasangan.

Sebuah survei 2012 oleh Better Sleep Council menunjukkan satu dari empat pasangan tidur secara terpisah untuk tidur malam yang lebih baik. Psikoterapis yang berbasis di New York City, Ken Page, mengungkapkan beberapa pasangan merasa tidur secara terpisah membuat hubungan mereka lebih solid.

“Saya telah bekerja dengan pasangan yang mengatakan tidak perlu khawatir tidur mereka terganggu sehingga memungkinkan mereka untuk menghargai hal-hal baik dalam hubungan. Mereka dapat mengangkat segala kebencian yang mungkin mereka rasakan di masa lalu,” ujar Page dilansir Independent, Selasa (20/8)

Pasangan yang tidur secara terpisah mungkin memiliki alasan tersendiri. Seorang pengelola rumah profesional dari Brisbane Australia, Jill Goebel, mengungkapkan tidur beberapa malam di tempat tidur yang terpisah menjadi solusi praktis kesulitan tidurnya. Sebab, suami Geobel kerap mendengkur dan menyebabkan ia sulit tidur.

“Akhirnya ia setuju saya tidur di kamar cadangan beberapa kali sepekan, tetapi kami masih berbagi kamar tidur,” kata Goebel.

Ada yang mengatakan gender juga berperan. Biasanya istri mendukung gagasan tempat tidur terpisah. Sebab, wanita lebih sensitif terhadap kebiasaan buruk pasangannya.

Kehamilan serta perubahan atau masalah hormon dapat menyebabkan mereka ingin tidur sendirian. Sebuah studi yang ditebitkan pada 2007 oleh jurnal Sleep and Biological Rhythms menemukan wanita cenderung terganggu oleh kehadiran pria di tempat tidur daripada pria oleh wanita.

Selain itu, sangat penting bersikap terbuka dan jujur dengan pasangan tentang keinginan tidur secara terpisah. Penting juga untuk membicarakan rencana mempertahankan keintiman dalam hubungan.

“Memastikan memiliki rutinitas dan mengatur waktu hubungan adalah kuncinya, seperti sarapan bersama setiap pagi atau menyambut satu sama lain ke kamar,” kata Jennifer Adams, penulis Sleeping Apart Not Falling Apart.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA