Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Cara Klinik di Belanda Beri Terapi Kecanduan Gim dan Medsos

Selasa 20 Aug 2019 10:32 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Christiyaningsih

Warga bermain Game Online di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (3/1/2019).

Warga bermain Game Online di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (3/1/2019).

Foto: Antara/Rahmad
Klinik Yes We Can di Belanda sediakan layanan khusus bagi para pecandu gim dan medsos

REPUBLIKA.CO.ID, HILVARENBEEK -- Kecanduan gim (game) adalah masalah nyata dan terus berkembang di seluruh dunia. Tahun lalu, WHO mendaftarkan dan mendefinisikannya sebagai kondisi dalam edisi 11 Klasifikasi Penyakit Internasional. Beberapa negara bahkan telah mengidentifikasinya sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama.

Baca Juga

Di Belanda, ada Klinik Yes We Can yang menyediakan pelayanan khusus bagi pecandu gim. Klinik ini merawat ratusan orang yang kebanyakan pasien yang datang berasal dari Inggris dan negara lain yang tidak meyediakan terapi gim.

“Di London lebih banyak lembaga penitipan anak. Makanya mereka datang ke sini untuk perawatan dan kembali ke Inggris dengan kondisi yang lebih baik," kata Jan Willem, pendiri klinik Yes We Can dikutip dari Guardian, Selasa (20/8). Dulunya Willem juga mantan pecandu gim.

Klinik ini menawarkan beberapa program perawatan dengan durasi waktu yang berbeda-beda. Klinik yang berada di Hilvarenbeek, kota kecil di selatan Amsterdam, tersebut menyediakan sesi terapi secara individual dan kelompok. Klinik juga menyediakan kegiatan-kegiatan di luar ruangan.

Klinik ini awalnya hanya merawat warga Belanda. Namun klinik mulai membuka fasilitas internasional pada 2017 lalu dan melayani sekitar 24 remaja asing.

Willem mengatakan kasus kecanduan daring (online) ini menjadi lebih umum dengan orang-orang yang mengalami ketergantungan pada Netflix, pornografi, atau media sosial. "Mereka telah menemukan cara untuk merasa lebih baik hanya dengan berada di dunia daring sebagai pelarian dari dunia nyata," katanya.

Dari banyaknya pecandu media sosial, sebagian besar di antaranya adalah remaja perempuan. Kasus mereka kebanyakan berhubungan dengan gangguan kepribadian yang didasari rasa tidak nyaman dengan diri mereka sendiri atau kebutuhan untuk memperoleh atensi.

"Mereka begitu tidak aman sehingga perlu konfirmasi dengan mengirim 20-30 swafoto atau posting Instagram sehari sekali bahkan lebih. Mereka membutuhkan tanda suka untuk mendapatkan konfirmasi bahwa mereka masih menarik atau disukai," ujar Willem.

Dia mengibaratkan perangkat dalam permainan video seperti kotak jarahan. Di mana pemain membayar sedikit biaya untuk mendapatkan berbagai macam barang virtual secara acak dan membuat orang terhubung lebih dalam. Maka untuk memutuskan hubungan itu, dia melarang pasien di kliniknya untuk membawa ponsel, laptop, atau benda elektronik lainnya.

Para peserta juga dilarang meminum kopi atau minuman bersoda selama menjalani perawatan. Mereka juga dilarang melakukan kontak dengan keluarga atau temannya selama lima pekan pertama. Sebagai gantinya, keluarga mereka akan diundang untuk datang setiap pekan evaluasi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA