Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Tip Agar Anak Gadis tak Cemas Hadapi Haid Pertamanya

Kamis 15 Aug 2019 09:15 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Ibu dan anak perempuannya.

Ibu dan anak perempuannya.

Foto: Republika/Prayogi
Orang tua perlu memberikan edukasi agar anak gadisnya tak cemas saat pertama haid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sering kali anak perempuan mengalami cemas, takut dan bingung saat mengalami menstruasi untuk kali pertama. Untuk itu, peran orang tua dalam memberikan edukasi seksual dan reproduksi menjadi sangat penting.

Dr Grace Valentine SpOG mengatakan, ada baiknya menjelaskan perihal menstruasi ketika anak masih berusia enam atau delapan tahun. Ia mengatakan, adalah wajar jika anak pedusi tak langsung lancar haidnya.

"Masa-masa awal menstruasi itu kan tidak langsung normal, sering kali bisa dua bulan sekali, ini wajar dan dapat jadi salah satu momentum bagi orang tua untuk memberi edukasi seksual," kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan RS Pondok Indah itu di Jakarta, Rabu (14/8).

Selain itu, menurut Grace, orang tua juga harus memastikan sang anak mengetahui perlengkapan kebersihan kewanitaan, seperti pembalut atau tampon. Orang tua juga harus memberi tahu cara membersihkan bagian kewanitaan dengan baik dan benar.

Di samping itu, Grace juga menyerukan agar anak mendapatkan penjelasan bahwa terkadang menstruasi dapat menyebabkan keram perut dan keluhan lain yang umumnya dirasakan saat haid.

“Jelaskan bahwa area Miss V sangat rawan akan jamur, terutama ketika sedang menstruasi, sehingga anak harus bisa membersihkan area kewanitaannya,” kata Grace.

Ketika si gadis pertama kali menstruasi, orang tua juga harus menjelaskan bahwa kini ia telah akil balig dan organ reproduksinya sudah bisa dibuahi. Anak perempuan harus mengerti bahwa sejak haid pertama muncul, ia sudah bisa hamil.

"Nah orang tua juga harus mengedukasi anak tentang hamil itu gimana dan lain sebagainya,” jelas dia.

Untuk itu, Grace mengajak orang tua untuk lebih peka terhadap kebutuhan edukasi seksual dan perubahan hormonal anak. Sebab di era digital anak akan mudah menyerap informasi melalui internet, tak terkecuali terkait masalah seksual dan organ reproduksi. Orang tua pun harus tetap bisa memosisikan diri sebagai sumber informasi utama dan terpercaya bagi anak.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA