Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Rekomendasi Psikolog Saat Anak Bermasalah di Sekolah

Kamis 15 Aug 2019 00:17 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari

Hari Pertama Sekolah. Wali murid mengantar anaknya di hari pertama sekolah di SDN 1 Ungaran, Yogyakarta , Senin (15/7/2019).

Hari Pertama Sekolah. Wali murid mengantar anaknya di hari pertama sekolah di SDN 1 Ungaran, Yogyakarta , Senin (15/7/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Lakukan peninjauan mingguan untuk mengetahui apa penyebab anak bermasalah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prestasi anak di sekolah pasti mengalami perubahan secara dinamis. Akan tetapi, orang tua perlu mencermati apabila anak mengalami perubahan perilaku yang drastis. Misalnya, mengalami gangguan belajar yang sebelumnya tak pernah terjadi.

Baca Juga

"Ketika anak optimal di sekolah dan punya teman sebaya, artinya dia baik-baik saja. Tetapi orang tua perlu meninjau apabila kegiatan belajar yang sebelumnya baik-baik saja tiba-tiba bermasalah," kata psikolog klinis anak dan remaja Roslina Verauli.

Hal pertama yang dia sarankan adalah melakukan peninjauan mingguan. Perempuan yang akrab disapa Vera itu meminta orang tua memantau kegiatan bermain dan tidur anak setiap hari selama sepekan.

Bisa jadi, masalah anak di sekolah disebabkan waktu tidur atau waktu bermain yang kurang. Jam tidur atau aktivitas fisik yang tidak memadai bisa menyebabkan anak menjadi kurang konsentrasi, cenderung agresif, serta kurang kooperatif di kelas.

Sebagai solusinya, Vera meminta orang tua meninjau ulang adakah kegiatan yang dirasa tidak perlu. Pelajaran tambahan atau kursus yang sebenarnya tidak dibutuhkan lebih baik dialokasikan untuk waktu bermain, terutama kegiatan semiterstruktur.

Anak di bawah enam tahun membutuhkan waktu bermain aktif maupun pasif selama lima jam sehari untuk menstimulasi kemampuan motorik dan sensorik. Sementara, waktu bermain anak usia enam sampai 12 tahun idealnya sebanyak satu sampai dua jam sehari.

Ayah dan ibu juga perlu memperhatikan jam tidur anak. Berdasarkan pengalaman Vera menangani pasiennya, rata-rata anak usia sekolah dasar di Indonesia masih kurang tidur. Waktu ideal delapan sampai sembilan jam hanya terpenuhi lima sampai enam jam.

Penyebabnya adalah jam akademis yang panjang di sekolah serta berbagai les tambahan yang kurang perlu. Vera menyayangkan orang tua yang menjejali anak dengan berbagai kegiatan melelahkan tanpa memperhatikan kebutuhan anak sesuai tahap usia.

Sementara, jika anak usia sekolah terlihat selalu ingin bermain dan tidak memedulikan belajar pun perlu diwaspadai. Bisa jadi, itu tandanya kebutuhan emosional anak belum terpenuhi atau orang tua kurang memberikan kasih sayang.

"Anak juga sama seperti kita, orang dewasa. Kalau kurang kasih sayang pasti mencari kegiatan yang menyenangkan supaya kebutuhan emosionalnya tercukupi," tutur Vera.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA