Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

Studi Sebut Musik Ganggu Proses Kerja Kreatif

Selasa 13 Agu 2019 15:42 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Mendengarkan musik

Mendengarkan musik

Foto: Mentalfloss
Banyak studi menunjukkan sisi positif musik tapi ada yang menyebut sebaliknya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak penelitian yang menunjukkan sisi positif dari mendengarkan musik untuk segala usia. Namun sebuah penelitian menyatakan musik sebaiknya dihindari ketika sedang melakukan kerja kreatif.

Baca Juga

Mendengarkan musik saat bekerja secara signifikan merusak kreativitas. Simpulan ini muncul dari sebuah penelitian yang diterbitkan awal tahun ini dalam jurnal Applied Cognitive Psychology yang meneliti efek dari berbagai jenis musik latar pada pemecahan masalah kreatif.

Untuk riset ini, para peneliti Inggris memberi orang-orang serangkaian kata-kata yang dirancang untuk mengukur kreativitas dan proses berbasis wawasan. Peserta studi menyelesaikan teka-teki baik di ruang yang tenang atau di tempat dengan musik yang diputar di latar belakang.

Baik dengan musik yang akrab atau asing, vokal atau sangat instrumental, skor orang rata-rata jatuh pada tes kreativitas dibandingkan dengan skor mereka dalam kondisi tenang. "Temuan ini menantang pandangan musik latar meningkatkan kreativitas," tulis penulis penelitian dikutip dari Time belum lama ini.

Meski hasil tersebut cukup bertentangan dengan manfaat musik yang banyak disuarakan, penelitian lebih lanjut tentang musik dan kreativitas menunjukan hal yang lebih spesifik. Hasil tersebut nyatanya bergantung pada jenis tugas kreatif yang dihadapi seseorang dan jenis musik tertentu mungkin dapat bermanfaat.

Sebuah studi pada 2017 dalam jurnal PLOS ONE menemukan mendengarkan musik bahagia yang didefinisikan sebagai nada klasik yang ceria dan merangsang membantu orang melakukan tugas dengan lebih baik yang melibatkan pemikiran "berbeda". Artinya, kondisi tersebut melibatkan kombinasi yang tidak terduga, mengenali tautan di antara rekanan yang jauh, atau mengubah informasi menjadi bentuk yang tidak terduga.

Pada dasarnya, pemikiran yang berbeda muncul dengan ide-ide atau strategi baru di luar dugaan. "Kami hanya dapat berspekulasi mengapa musik yang bahagia merangsang pemikiran yang berbeda," kata rekan penulis studi PLOS ONE dan asisten profesor di Radboud University Nijmegen di Belanda, Simone Ritter.

Salah satu teori yang dikemukakan dalam studi itu menyatakan sifat stimulasi musik yang hidup entah bagaimana memberi energi pada otak dengan gaya berpikir fleksibel. Kondisi ini mengarah pada ide-ide yang tidak konvensional atau inovatif.

Sedangkan teori lain menyebut mendengarkan musik dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan suasana hati. Perubahan ini dapat memfasilitasi wawasan kreatif.

"Untuk saat-saat terobosan kreativitas, suasana hati positif umumnya bermanfaat. Kecemasan ini cenderung membuat mereka lebih fokus, yang tidak membantu," kata ketua psikologi di Northwestern University dan peneliti utama di NU's Creative Brain Lab Mark Beeman.

Bagaimana bisa fokus pada masalah kreatif bisa menjadi hal yang buruk? Beeman menjelaskan proses pemecahan masalah kreatif cenderung berkembang dalam tahap yang dapat diprediksi.

Tahap pertama, kata penulis buku The Eureka Factor: Aha Moments, Creative Insight, and the Brain, melibatkan mempelajari masalah atau dilema, menilai solusi yang jelas, dan menyadari tidak ada yang berhasil. "Pada titik ini, jika Anda terus fokus terlalu keras pada masalah, itu cenderung membuat otak lebih sulit untuk menghasilkan ide-ide yang berbeda," katanya.

Beeman mengasosiasikan masalah itu dengan bintang redup yang menghilang ketika seseorang menatap langsung padanya. Untuk melihat bintang, seseorang harus melihatnya dari sudut mata. Menurutnya, ide-ide kreatif juga bisa seperti itu dengan arus melepaskan fokus seseorang dari ide-ide yang kuat dan menghindari fokus yang lain.

Setelah seseorang dengan cermat memeriksa suatu masalah dan menabrak penghalang jalan, tahap kreatif berikutnya adalah yang Beeman sebut inkubasi. Selama tahap ini, ada semacam proses berkelanjutan dalam pikiran di mana seseorang masih merenungkan masalah di alam bawah sadar.

Masa inkubasi ini sering menghasilkan wawasan atau kesadaran 'aha!'. Mendengarkan musik, menurut Beeman, di sisi lain mungkin hanya jenis pengalihan ringan yang melemahkan fokus otak sambil tetap memungkinkannya untuk melakukan inkubasi gagasan baru yang bermanfaat.

Pernyataan tersebut pun berdasar karena ada bukti mendengarkan musik dapat merangsang jaringan mode standar otak, yang merupakan kumpulan wilayah otak yang terhubung yang penelitian telah ditautkan dengan wawasan kreatif. Sebab itu, Beeman tidak membantah hasil studi baru yang menemukan musik mengganggu pemecahan masalah kreatif.

Hanya saja, peneliti itu menyatakan, musik mungkin tidak membantu orang memecahkan jenis teka-teki verbal yang digunakan dalam penelitian baru itu. Jenis teka-teki spesifik ini membutuhkan proses kognitif berganda, beberapa di antaranya memerlukan perhatian terfokus, dan semua jenis gangguan termasuk musik dapat mengganggu perhatian terfokus.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA