Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

Senin, 18 Zulhijjah 1440 / 19 Agustus 2019

Orang Optimistis Tidurnya Lebih Nyenyak

Selasa 13 Agu 2019 10:54 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Tidur nyenyak.

Tidur nyenyak.

Foto: Republika
Kualitas tidur seseorang juga ditentukan oleh sifatnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada banyak hal yang dapat memengaruhi kualitas tidur di malam hari. Beberapa faktor yang sering disebut adalah konsumsi alkohol, aktivitas fisik, hingga paparan layar gawai beberapa saat sebelum tidur. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa sifat seseorang juga turut andil dalam menentukan kualitas tidur.

Baca Juga

Orang-orang yang optimistis cenderung tidur dengan nyenyak. Hal ini diungkapkan oleh sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Behavioral Medicine.

Studi ini melibatkan 3.548 partisipan berusia 32-51 tahun. Tim peneliti melakukan pengukuran optimisme para partisipan melalui serangkaian pertanyaan yang harus dinilai oleh para partisipan. Hasil skor dari survei ini beragam, mulai dari enam hingga 30 di mana 30 menunjukkan sifat yang paling optimistis.

Tak hanya itu, para partisipan juga diminta untuk melaporkan kualitas tidur mereka. Partisipan juga memberi data lain seperti durasi tidur rata-rata setiap malam dan gejala-gejala insomnia yang mungkin dialami.

Dari beragam data yang terkumpul, tim peneliti menemukan bahwa orang yang optimistis cenderung mendapatkan tidur yang cukup di malam hari selama enam sampai sembilan jam. Selain itu, optimis juga memiliki risiko 74 persen lebih rendah untuk mengalami insomnia.

"Hasil dari studi ini menunjukkan hubungan yang signifikan (antara optimisme dan kualitas tidur)," jelas ketua tim peneliti Dr Rosalba Hernandez dari University of Illinois seperti dilansir Medical News Today.

Hernandez mengatakan bahwa kurang tidur telah menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup mengkhawatirkan. Alasannya, kurang tidur diketahui berkaitan dengan beberapa masalah kesehatan lain, seperti risiko yang lebih tinggi terhadap obesitas, hipertensi, dan juga kematian.

Hernandez mengatakan, studi ini memang murni bersifat observasional. Akan tetapi Hernandez memiliki spekulasi mengenai mekanisme bagaimana optimisme mempengaruhi kualitas tidur.

Hernandez mengatakan orang-orang yang optimistis cenderung aktif mengatasi masalah dengan berfokus pada masalah tersebut. Selain itu, orang-orang yang optimistis juga cenderung menginterpretasikan situasi yang penuh tekanan dengan cara yang lebih positif.

"Ini mengurangi kekhawatiran dan pikiran berlarut-larut ketika mereka akan tidur dan selama siklus tidur mereka," ungkap Hernandez.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA