Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Penderitaan Warga Kashmir di Tengah Jam Malam India

Senin 12 Agu 2019 05:21 WIB

Rep: LINTAR SATRIA/ Red: Elba Damhuri

Prajurit Paramiliter India memeriksa tas seorang pria yang mengendarai skuter saat jam malam di Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, Kamis (8/8).

Prajurit Paramiliter India memeriksa tas seorang pria yang mengendarai skuter saat jam malam di Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, Kamis (8/8).

Foto: AP Photo/Dar Yasin
India mengirimkan puluh ribu pasukan tambahan ke Kashmir.

REPUBLIKA.CO.ID, SRINAGAR--Menyelusuri jalan sempit dan berliku warga Kashmir wilayah India, Reyaz Ahmed menjalani rutinitas dibawah jam malam yang diberlakukan pemerintah pusat di New Delhi. Pedagang 35 tahun itu bangun pukul 05.00 pagi dan bertemu dengan tentangganya di pusat kota Srinagar.

Mereka berjalan beberapa kilometer untuk bertemu petani yang menjual sayuran segar dan susu. Dalam perjalanannya mereka juga singgah untuk membeli kebutuhan pokok dan obat-obatan dari penjual dan apoteker yang menjual barang dagangannya di rumah mereka.

Satu hal yang paling penting dalam rutinitas ini. Mereka sudah harus sampai di rumah pukul 06.00. Tidak lama setelah fajar menyingsing polisi dan pasukan paramiliter dengan seragam anti huru-hara serta dipersenjatai senapan otomatis akan mengambilalih jalan-jalan dan kota tua Srinagara di mana Ahmed dan tetangganya Adil Bhat tinggal.

Pasukan pemerintah akan mendirikan titik pemeriksaan. Memasang barikade besi dan kawat baja di semua pintu masuk dan keluar pusat  unjuk rasa dan bentrokan anti-India di Srinagar.

"Ketika siang maka ada yang menonton televisi, beberapa tidur dan menunggu sore sampai tentara menarik diri dari jalan," kata Ahmed, Jumat (9/8).

Bhat tidak memiliki televisi di rumahnya dan hanya mendengarkan radio untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Pengamanan yang sangat ketat ini tidak pernah jadi sebelumnya. Sejak Ahad (4/8) malam satu hari sebelum pemerintah India mencabut hak konstitusional Kashmir semua jalur komunikasi juga diputus.

New Delhi mengirimkan puluh ribu pasukan tambahan ke Kashmir. Dengan alasan untuk menumpas pemberontakan yang selama tiga dekade menentang kekuasaan India di wilayah tersebut.

Sebagai upaya menutup Kashmir agar dapat dicengkram erat-erat. Puluhan ribu polisi dan tentara menyebar ke seluruh penjuru wilayah perbatasan itu. Memberlakukan jam malam sementara pihak berwenang memutus saluran telepon dan layanan internet.

Pada hari Jumat kepala polisi Kashmir Dibagh Singh mengatakan ketatnya jam malam akan dilonggarkan selama sholat Jumat. "Di sebagian besar kota Srinagar Warga diizinkan pergi ke masjid khusus untuk beribadah," kata Singh.

Ahmed mengatakan pada Rabu lalu ia berjalan sekitar 7 kilometer untuk memeriksa kabar bibinya. "Sangat membuat frustasi untuk berjalan dua kali lipat dari jarak tempuh demi menghindari barikade dan titik pemeriksaan," kata Ahmed.

Pembatasan gerak warga bukan sesuatu yang baru di Kashmir. Mereka terbiasa dengan pengekangan selama berbulan-bulan setelah ada pemberontakan terhadap India pada tahun 2008 dan 2016. Tapi sebelumnya jalur telepon rumah tidak pernah diputus.

Seruan separatis untuk turun ke jalan dan unjuk rasa terus disebarkan. Berbenturan dengan penutupan-penutupan yang terus dilakukan pemerintah. Jadi warga Kashmir sudah tahu bagaimana cara untuk tetap selamat dari pemenjaraan di dalam rumah. 

Warga juga terbiasa menimbun kebutuhan dasar. Sebuah kemampuan yang diasah selama musim dingin yang sulit ketika jalanan dan komunikasi seringkali terputus.

Lebih dari 1 juta orang terkepung di Srinagar. Warga mengatakan perlahan-lahan berbagai kesulitan mulai mereka alami.

Mereka juga mulai kehabisan makanan dan kebutuhan dasar. Karena toko-toko ditutup dan pergerakan warga dibatasi. Sekolah juga ditutup sehingga orang tua kesulitan untuk menghibur anak mereka di rumah. Para pasien menghadapi kelangkaan obat-obatan. Tidak ada uang di ATM dan bank-bank pun ikut ditutup.

"Berkali-kali seluruh penduduk dipenjara. Kami tidak akan memaafkan India atas hukuman kolektif yang kurang ajar ini," kata pengerajin kayu Mohammed Akbar.

Warga takut langkah dicabutnya otonomi Kashmir akan membuka gelombang masuknya warga Hindu ke pemukiman mereka. Mengubah demografi Kashmir yang sampai saat ini masih menjadi satu-satunya wilayah mayoritas muslim di India.

"Mereka (India) mungkin mengatakan ini untuk pembangunan dan pemerintahan yang bersih dari korupsi tapi itu semua bohong, ini adalah serangan terhadap identitas, budaya dan sebuah rencana jangka panjang untuk mengubah demografi di sini," kata Akbar.

Sebagian besar reaksi atas tindakan India berhasil ditundukan. Tapi warga masih mengalami pembatasan yang digelar sebagai upaya memaksaan ketenangan di wilayah itu.

Walaupun begitu tapi unjuk rasa anti-India dan bentrokan masih terjadi setiap hari. Biasanya terjadi ketika tentara mulai menarik diri saat matahari mulai terbenam. Laki-laki muda Kashmir melempari polisi dan tentara dengan batu dan meneriakkan slogan anti-India.

Ada polisi dan dokter yang mengatakan satu orang terbunuh, satu orang terluka parah dan satu lagi terluka ringan dalam sebuah bentrokan. Kekerasan terjadi ketika polisi menanggapi lemparan batu pengujuk rasa dengan tembakan dan gas air mata. 

Pemerintah India mengatakan penasihat keamanan nasional pemerintah Ajit Doval berkemah di Srinagar untuk mengawasi situasi ini secara langsung. Ribuan politisi termasuk pemimpin-pemimpin setempat telah menjadi tahanan rumah atau ditahan dengan resmi.

Krisis ini juga memicu ketegangan antara tentara India dan polisi Kashmir. Para polisi Kashmir mengatakan mereka masih tidak tahu rencana India.

Ada laporan pasukan paramiliter India dan polisi Kashmir bentrok  setidaknya di tiga lokasi. Tiga orang polisi dan dua orang pasukan paramiliter mengatakan bentrokan itu menyebabkan korban luka di kedua belah pihak. Kelima orang itu tidak dapat disebutkan nama mereka karena pasukan pemerintah dilarang untuk berbicara dengan wartawan.

Sejak tahun 1989 polisi setempat sudah berhadapan dengan pemberontak yang melawan kekuasaan India. Para pemberontak memperingatakan polisi-polisi Kashmir untuk menjauh dari operasi kontra-pemberontakan India.

Status Kashmir menjadi kunci perselisihan antara India dan Pakistan. Sejak kedua negara itu pecah usai masa penjajahan Inggris pada tahun 1947. Keduanya memiliki wilayah di Kashmir dan sudah bertempur di dua perang memperebutkan wilayah tersebut.

Sebenarnya pergerakan anti-India di wilayah kekuasaan India di Kashmir berjalan dengan damai. Tapi karena ada serangkaian kesalahan politik, janji yang tidak ditepati dan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat maka pemberontak Kashmir menggelar pemberontakan bersenjata pada tahun 1989. 

Setelah meminta turis asing dan domestik serta peziarah Hindu untuk meninggalkan Kashmir pada pekan lalu. Polisi diam-diam meminta ratusan ribu pekerja imigran India untuk pergi.

"Setiap wisatawan India akan dicurigai sebagai bagian dari rencana gelombang masuknya orang India, itu sesuatu yang harus kami tangani dan sekarang dapat menurunkan industri pariwisata," kata pemandu wisata yang memiliki rumah apung di Danau Dal, Bashir Ahmed.

Sebelumnya pemberontak juga sudah memperingatkan. Beberapa bulan yang lalu kelompok pemberontak terbesar di Kashmir yang dikuasai India, Hizbul Mujahideen memperingatkan pencabutan hak istimewa Kashmir.

"Setiap India akan menjadi target sah jika India mencabut status istimewa wilayah ini," kata mereka.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA