Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Dokter: Masker Bedah yang Dipakai Masyarakat Kurang Ideal

Sabtu 03 Aug 2019 05:00 WIB

Red: Ani Nursalikah

Sejumlah aktivis Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibu Kota) mengenakan masker sebelum melaksanakan aksi di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (5/12).

Sejumlah aktivis Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibu Kota) mengenakan masker sebelum melaksanakan aksi di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (5/12).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Masker jenis respirator dinilai ideal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDIP) Agus Dwi Susanto menilai masker bedah yang beredar di masyarakat kurang ideal untuk digunakan di tengah kualitas udara Jakarta. Udara Jakarta akhir-akhir ini sempat dikategorikan tidak sehat berdasarkan Air Quality Index (AQI) berada di atas 150.

Baca Juga

"Yang paling ideal dan direkomendasikan adalah masker itu mampu memfiltrasi partikel pm 2,5 atau 10 dengan kemampuan lebih dari atau sama dengan 95 persen, masker bedah kurang ideal,” kata Agus saat dihubungi di Jakarta, Jumat (2/8).

Dia menjelaskan ada beberapa jenis masker antara lain masker bedah, kain, dan respirator. Di antara jenis itu, masker jenis respirator adalah yang ideal karena mampu memfiltrasi komponen polutan hingga 95 persen.

Namun ia juga mengatakan masker bedah yang banyak digunakan tidak masalah daripada tidak pakai masker sama sekali. Menurut penelitian, masker jenis tersebut sanggup memfilter partikel antara sekitar antara 40 persen dibanding tidak pakai masker sama sekali.

"Biasanya kemampuannya (masker bedah) filtrasinya tidak maksimal tapi tetap bisa mengurangi partikel yang masuk sekitar 40 persen tapi kurang ideal. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali," ujarnya.

Agus menjelaskan masker sebaiknya digunakan selama delapan jam agar mengurangi risiko pertumbuhan kuman dan infeksi saluran nafas. Masyarakat Jakarta juga disarankan terus memantau kualitas udara Jakarta untuk mengetahui perlu tidaknya memakai masker.

"Itulah pentingnya kenapa Anda harus tahu daerah mana yang kualitas udaranya bagus dan tidak, jadi tidak wajib pakai masker seterusnya, " ucap dia.

Sebelumnya, kualitas udara Ibu Kota DKI Jakarta pada Kamis (1/8) siang pukul 11.30 WIB menjadi yang paling buruk atau tidak sehat dibandingkan negara-negara lainnya. Tercatat di angka 161 atau dengan parameter PM2.5 konsentrasi 75,4 ug/m3 berdasarkan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA