Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Sejarah di Balik Bedug Besar di Masjid Istiqlal

Selasa 23 Jul 2019 23:17 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Pemandu wisata memberikan penjelasan kepada turis mancanegara di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (28/1).

Pemandu wisata memberikan penjelasan kepada turis mancanegara di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (28/1).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Bedug besar di Masjid Istiqlal tak lagi ditabuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai destinasi wisata di Jakarta, Masjid Istiqlal menyimpan beragam keunikan. Salah satunya ialah keberadaan bedug yang terbuat dari kayu meranti berusia 300 tahun. Saat ini, bedug besar itu sudah tidak lagi ditabuh.

"Sekarang bedug yang ada di Istiqlal tidak dipakai lagi, suaranya kami rekam lalu diperdengarkan setiap sebelum azan," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu Huraira AS, kepada Antara, saat ditemui di Masjid Istiqlal, Selasa.

Abu mengatakan, bedug itu tidak lagi ditabuh demi menjaganya tetap awet mengingat nilai sejarah dan nasionalisme yang tersimpan dari pembuatan bedug tersebut. Bedug besar hanya jadi pajangan yang bisa dilihat wisatawan yang datang ke masjid terbesar di Asia Tenggara karya arsitek besar Indonesia, Fredrich Silaban, atas perintah Presiden Soekarno itu.

Baca Juga

Menurut Abu, sesekali bedug itu ditabuh secara simbolik ketika ada kunjungan tamu kenegaraan. "Keberadaan bedug tersebut memiliki sejarah menarik dibuat pada 1972, sebelum masjid selesai dibangun," kata dia.

Abu mengatakan, bedug merupakan benda yang unik karena hanya ada di Indonesia. Bedug yang tersimpan di Istiqlal berbeda dengan bedug yang ada di daerah lain, selain ukurannya yang sangat besar juga nilai sejarah pembuatannya.

Bedug tersebut, menurut dia, terbuat dari kayu meranti merah (shorea wood) asal Kalimatan Timur. Pembuatan bedug menghabiskan satu pohon.

"Usia pohon kayunya 300 tahun, bedug dibuat oleh PT Adikarya atas perintah Pak Harto," katanya.

Abu menyebutkan, kayu meranti tersebut awalnya koleksi dari anjungan Kalimantan Timur yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. Ketika Presiden Soeharto mengunjungi anjungan Kalimantan Timur yang mempunyai koleksi kayu berumur 300 tahun, yakni kayu meranti, saat itu juga ia memerintahkan untuk mengubah kayu gelondongan besar itu menjadi bedug lalu dihadiahkan ke Masjid Istiqlal.

Bedug itu memiliki ukuran yang sangat besar, yakni panjang tiga meter, berdiameter 2,7 meter, serta berat tiga ton.

"Keberadaan bedug ini jadi pajangan sekaligus untuk pembelajaran bagi generasi muda tentunya, bahwanya nenek moyang kita pernah menggunakan alat ini untuk menunjukkan waktu masuknya shalat," katanya.

Banyak pelajaran lagi yang bisa dilihat dari bedug ini, yakni terdapat simbol-simbol keberagaman, seperti bunga lotus, tulisan Arab tetapi berbahasa Jawa, yakni Sengkala yang artinya simbol tahun matahari menurut kepercayaan orang Jawa. Terdapat juga ukiran di beduk yang dibuat oleh pengukir kayu dari Jepara dan terdapat tulisan Basmalah serta kalimat sahadat.

Ia menegaskan, keberadaan bedug bukan untuk memanggil orang salat, tetapi penada masuknya waktu shalat. "Bedug bukan memanggil orang shalat, memanggil orang shalat itu dengan azan," kata dia.



sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA