Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Polusi Udara Akibatkan Janin Sulit Bernapas

Senin 22 Jul 2019 18:30 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7/2019).

Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7/2019).

Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Ketika polusi membuat ibu hamil sulit bernapas, janin pun bisa merasakannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti di Sekolah Kesehatan Masyarakat Fielding UCLA Dr Beate Ritz, mengungkap efek polusi udara pada kehamilan. Polusi udara kemungkinan memicu kelahiran prematur, berat lahir rendah, hingga tekanan darah tinggi di kemudian hari.

Baca Juga

Ritz, yang juga menjabat presiden Masyarakat Internasional untuk Epidemiologi Lingkungan, telah melakukan penelitian sejak tahun 1990-an yang menghubungkan tingkat polusi udara di Kalifornia Selatan dengan ibu yang melahirkan bayi sebelum waktunya secara penuh dengan berat lahir di bawah rata-rata. Ia mengungkapkan, jika ibu mengalami kesulitan bernapas, janin pun akan merasakan hal yang sama.
 
"Sudah menjadi jelas bahwa apa pun yang terjadi pada ibu terjadi pada bayinya dan apa yang terjadi dalam kehamilan dapat memengaruhi sisa hidup bayi," kata Ritz, dilansir Health 24, Senin (22/7).
 
Studi terbaru di Amerika Serikat dan di tempat lain telah menunjukkan korelasi antara partikel di udara dan tekanan darah tinggi pada ibu dan bayi, diabetes gestasional atau peningkatan gula darah yang mempengaruhi wanita hamil, dan tekanan darah tinggi pada anak-anak yang terpapar polusi di dalam rahim. Bahaya yang mungkin terjadi pada janin yang berkembang di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi bisa meningkatkan risiko autisme, asma, dan keguguran.
 
"Beberapa wanita mungkin kehilangan janin sangat dini sehingga mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka hamil, tapi begitu paparan cukup merusak janin, dia tidak akan bertahan," kata Ritz. 
 
Dr Sanjay Rajagopalan, Kepala Kardiologi di Herrington Heart dan Institut Vaskular Rumah Sakit Universitas di Cleveland mengatakan, polusi tampaknya secara khusus mempengaruhi populasi yang rentan, seperti mereka yang berusia lanjut atau cenderung terkena penyakit. Ia menjelaskan bahwa kehamilan adalah kondisi yang rentan.
 
"Janin berada dalam lingkungan di mana ia tumbuh dan rentan," kata Rajagopalan.
 
Sementara itu, untuk menekan risiko penyakit akibat polusi udara, ibu hamil bisa memasang penjernih udara di rumah. Rajagopalan menekankan semua perilaku sehat untuk kehamilan, misalnya makan dengan baik, aktivitas fisik, perawatan sebelum melahirkan, menghindari alkohol dan tembakau, memantau tekanan darah dan indikator kesehatan serta mengurangi paparan udara buruk juga harus dilakukan oleh ibu hamil. Itu berguna untuk menjaga kesehatan janin di dalam kandungan

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA